Oleh karena itu, kata "mari" juga tidak kalah efektif jika digunakan dalam kalimat ajakan yang sesuai dengan konteksnya. Misalnya, menggunakan kata tersebut dalam lingkup anak muda. Mereka tentu membutuhkan semangat tinggi dalam jalan kehidupannya yang masih panjang. Kata "mari" juga dapat digunakan dalam kebutuhan secara umum, seperti layanan masyarakat. Dengan kesan sedikit lebih sopan daripada kata "ayo:, niat untuk mengajak dan ingin melakukan kegiatan yang dimaksud secara masif tetap dapat sampai kepada para pendengarnya.
Apakah berarti kata "mari" lebih baik daripada kata "sila"? Tentu tidak. Lagi dan lagi, kesimpulan dari perbandingan ini adalah perlunya digarisbawahi bahwa setiap kata akan mengeluarkan potensi terbesarnya dalam penggunaannya yang tepat dan efektif. Pembahasan ini tentu hanya menyentuh permukaan saja. Jika para pembaca justru memiliki penilaian berbeda, tidak masalah. Sila mengutarakannya dengan argumen yang lebih kuat. Setidaknya, tercapai sudah tujuan penjelasan ini untuk membahas hal-hal menarik tentang bahasa. Memang tidak akan sederhana lagi menggunakannya, tetapi tidak menakutkan pula untuk menyelaminya. Tidak perlu takut atau khawatir setelahnya. Bukankah saya juga sudah menggunakan kedua kata tersebut sedari tadi?Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H