[caption caption="Pemakaman tetangga saya kemarin, foto pribadi"][/caption]
Kemarin pagi, saya dikejutkan oleh meninggalnya tetangga saya, bapak dari sahabat kecil saya di rumah orang tua, di Jakarta. Kata orang-orang, kematiannya mendadak semalam dan belum sempat dibawa ke rumah sakit. Saya sempatkan untuk ikut sholat jenazah di masjid dan mengiringi almarhum ke tempat peristirahatan terakhir. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisiNya, amin. Belum lama sebelumnya, sekitar seminggu yang lalu, teman saya, tetangga di Jakarta juga meninggal mendadak pada malam hari, pada umur 40 tahun. Berita mengejutkan juga datang dari sekolah. Orang tua siswa saya meninggal mendadak dalam umur 54 tahun setelah pulang kerja.Â
Belum lama saya juga mendengar berita meninggalnya tokoh masyarakat Slamet Efendy Yusuf di sebuah kamar hotel. Kematiannya, menurut yang saya baca, mendadak, karena sebelumnya beliau tidak sakit bahkan sangat aktif bekerja. Saya juga mendengar dari rekan kerja saya, bahwa dosennya di UIN Jakarta meninggal mendadak belum lama. Rekan kerja saya mengatakan, sehari sebelumnya, dia masih mendapatkan kuliah dari sang dosen.
Tulisan saya sebelumnya (baca) memuat rekan kerja saya di Serpong yang meninggal mendadak pada sore hari di rumahnya. Begitupula sepupu saya di Cianjur dan juga di Sukabumi yang meninggal mendadak, keduanya meninggal di rumah. Tidak ada angin tidak ada hujan, kematian tiba-tiba datang mendadak. Â
Dari banyak kematian yang saya dengar dalam kurun waktu dua bulan ini, sebagian besar meninggal mendadak, 8 kematian (Allahummaghfirlahum). Pada umumnya bukan di rumah sakit, tetapi di rumah. Kejadian itu tentu membuat saya bergidik, tetapi juga sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja, di mana saja, dan tidak kenal waktu. Bagi saya, itu takdir. Namun di luar takdir itu, saya berusaha juga berfikir kenapa kejadian itu terjadi, apakah ada sebab yang bisa masuk dalam logika fikiran kita? Kenapa banyak sodara dan teman saya meninggal dunia mendadak sekarang ini, yang belum pernah saya jumpai sebelumnya?
Saya sempat berbincang dengan siswa saya yang bapaknya meninggal. Saya mendapatkan informasi dari dia, bahwa almarhum bapaknya meninggal sepulang kerja dan memang terakhir beliau kecapean bekerja, pergi ke berbagai daerah. Kemudian saya juga tahu bahwa almarhum rekan kerja saya sangat aktif di lingkungan tempat tinggal maupun di tempat kerja. Kata teman-teman, almarhum tidak tidur 2 hari 2 malam. Kalau boleh saya katakan, almarhum teman saya kecapean.
Saya dengar cerita dari rekan saya yang dosennya meninggal, bahwa sang dosen sangat aktif mengajar di kampus di Jakarta maupun di luar kota sebelum meninggal. Begitupula yang saya baca di internet, almarhum Slamet Efendy Yusuf yang aktif bekerja sebelum meninggal. Tetangga saya yang meninggal dalam umur 40 tahun pun dikatakan aktif berkegiatan. Semuanya orang-orang yang aktif bekerja lantas meninggal mendadak.
Bagaimana dengan kondisi mereka sehari-hari sebelum meninggal? Pada umumnya yang saya dengar adalah mereka beraktifitas seperti biasa. Tidak sakit sebelumnya dan tidak ada tanda-tanda sakit parah. Ada yang bilang masih naik motor, masih nongkrong bareng, dan masih ke masjid sebelumnya, serta masih bekerja. Namun, tiba-tiba mati mendadak.
Selanjutnya, ada yang bilang faktor penyakit jantung sangat memegang peranan. Menurut saya, itu bisa saja, karena banyak yang mengaitkan mati mendadak dengan jantung. Lantas, jadi mereka kena serangan jantung gitu? Saya tidak tahu, bisa jadi iya, bisa juga ada penyakit yang diderita tetapi tidak diketahui. Ada rekan kerja saya yang terkena serangan jantung saat berolahraga (baca) namun bisa terselamatkan, beliaupun sekarang sudah dipasang ring. Info yang saya dapat dari beliau adalah beliau punya kolesterol tinggi sehingga ketika kejadian kolesterol menutup saluran darah ke arah jantung. Jadi serangan jantung terjadi karena ada penyakit lain sebelumnya yaitu kolesterol tinggi.
Untuk lebih tepat informasi tentang kematian mendadak ini, saya mencoba mencari tahu lewat internet. Berikut penjabarannya
Kematian mendadak yang terjadi umumnya di sebabkan oleh serangan jantung. Ada yang otot jantungnya membesar, ada yang pembuluh darah menuju jantung menyempit karena kolesterol, ada juga yang karena irama jantung berubah-ubah. Kematian mendadak juga bisa disebabkan oleh tekanan darah tinggi dan stress, serta kecapean. Untuk yang kecapean ini ada yang mengaitkannya dengan kebiasaan minum minuman berenergi yang membuat jantung terpacu tetapi dengan kondisi badan yang letih.
Jika berbalik pada pertanyaan di atas apakah kematian mendadak meningkat? Bisa jadi, kenapa? Karena jika kita lihat saat ini, kita banyak disuguhkan oleh makanan yang juga tidak sehat yang banyak kita temui di sekitar kita, seperti berbagai gorengan, minuman manis, dan berbagai masakan penuh kaldu, yang kita makan dan kemudian menumpuk di dalam tubuh kita dalam bentuk kolesterol, asam urat, dan gula. Kondisi menumpuk itu tidak bagus, apalagi ditambah dengan beban kerja sehari-hari yang tinggi dan kebiasaan olahraga yang jarang. Â Â
Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Sebagai manusia yang berfikir baiknya kita mengambil pelajaran untuk kita yang masih hidup. Apa yang dapat saya pelajari dari semua kematian mendadak yang terjadi di sekitar saya ini? Pertama, kematian mendadak bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, dan berlangsung sangat cepat. Hal itu saya simpulkan berdasarkan kematian di sekitar saya. Kedua, kecapean bisa membawa maut. Hati-hati jika kita sangat sibuk dan sering begadang. Orang yang bekerja seharian, Â harus punya istirahat cukup. Jika harus begadang, makan dan minum harus cukup tetapi saran saya jangan begadang. Ketiga, periksa kesehatan paling tidak sebulan sekali, apalagi jika usia kita sudah 40 tahun. Itu untuk mengingatkan agar kita tidak lupa diri, dalam hal apa yang kita makan, minum, olahraga, dan bekerja seharian. Khusus tentang makanan, menurut saya, makanan yang banyak membawa pengaruh bagi tubuh kita terutama pada darah harus dikontrol dengan baik, seperti makanan yang mengandung banyak kolesterol, gula, dan asam urat. Sebaiknya dikurangi. Â
Akhirul kalam, semoga kita sehat dan bisa mengambil pelajaran dari semua ini. Semoga almarhum dan almarhumah yang telah mendahului mendapat tempat terbaik di sisiNya. Amin. Â Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H