Mohon tunggu...
Ahmad Rizal
Ahmad Rizal Mohon Tunggu... Freelancer - driver ojek online
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

liburan

Selanjutnya

Tutup

Nature

Menyelami Kearifan Laut: Kisah Nenek Moyang dan Warisan Maritim Indonesia

23 Mei 2024   20:30 Diperbarui: 23 Mei 2024   20:36 96
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lagu "Nenek Moyangku" karya Saridjah Niung atau yang lebih dikenal dengan nama Ibu Soed, mengisahkan relasi istimewa antara bangsa Indonesia dengan lautan, sebagaimana tertera pada lirik bait pertama yang menegaskan leluhur kita berprofesi sebagai pelaut.

Melalui lirik "Gemar mengarungi luas samudra. Menerjang ombak, tiada takut, menempuh badai, sudah biasa," menggambarkan nenek moyang bangsa Indonesia yang menjadikan laut dan segala ekosistemnya sebagai bagian integral dari kehidupan.

Puluhan tahun setelah lagu tersebut diciptakan pada 1940, peran laut dalam kehidupan masyarakat Indonesia tetap tak tergantikan. Khususnya bagi kesejahteraan masyarakat pesisir dan sumber daya alamnya yang dimanfaatkan secara umum.

Indonesia menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dengan lebih dari 3.000 spesies ikan, 500 spesies koral, 3,5 juta hektare mangrove, dan potensi sumber daya perikanan sebesar 10,5 juta ton per tahun.

Kontribusi sektor perikanan bagi ekonomi juga signifikan, mencapai 5,6 miliar dolar AS pada periode Januari-November 2023.

Namun, eksploitasi sumber daya kelautan di masa lalu kini mulai menunjukkan dampaknya. Seperti penangkapan ikan berlebihan (overfishing) yang sering menggunakan alat-alat merusak kelestarian ekosistem termasuk pukat harimau dan bahan peledak.

Fenomena overfishing ini terjadi secara global. Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) pada 2020 memperlihatkan 34,2 persen stok ikan dunia diklasifikasikan sebagai hasil penangkapan ikan berlebih.

Belum lagi tekanan yang dialami oleh ekosistem perairan dan pesisir yang datang dari daratan, termasuk pencemaran plastik di laut serta berkurangnya ekosistem pesisir yang penting untuk penanganan perubahan iklim akibat pembangunan tanpa perencanaan.

Menyadari dampaknya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan bahwa Pemerintah sangat memahami pentingnya menjaga ekosistem laut dan memastikan sektor maritim dan perikanan bergerak dengan dasar berkelanjutan.

"Jadi ekonomi biru adalah kebijakan kita, ada lima kebijakan, yang paling penting adalah memperkuat posisi kawasan perlindungan laut khususnya di sektor konservasi. Karena konservasi ini penting karena di dalamnya terdapat tiga muatan utama: penyerapan karbon, produksi oksigen, dan pemijahan alami," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Trenggono dalam Dialog G20 Global Blended Finance Alliance membahas Sustainable Freshwater and Ocean Wealth di Bali.

Ekonomi biru menjadi program andalan Pemerintah Indonesia untuk mendorong keberlanjutan lautan Nusantara termasuk di dalamnya perluasan kawasan konservasi, penangkapan ikan terukur, pengembangan akuakultur yang berkelanjutan, pengawasan pemanfaatan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil serta pembersihan laut dari sampah plastik dengan keterlibatan nelayan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun