Mohon tunggu...
Ahmad Ismail Ibnu Sina
Ahmad Ismail Ibnu Sina Mohon Tunggu... Konsultan - Customer support di Otospector ; Layanan Inspeksi dan Garansi Mobil

Menoreh coret-coretan dari spektrum abstrak nan kreatif membolak makna dari berjuta warna

Selanjutnya

Tutup

Parenting Artikel Utama

Mengawal Generasi Digital, Mewujudkan Keamanan Siber untuk Anak

22 Agustus 2023   16:43 Diperbarui: 5 September 2023   14:15 299
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi anak dan gadget. (Sumber: shutterstock via kompas.com)

Generasi Digital

Dalam era digital yang semakin merajalela, risiko yang mengintai anak-anak di dunia maya semakin meluas. 

Kaspersky, perusahaan keamanan siber ternama, telah menggugah kesadaran para orang tua di Indonesia tentang bahaya online yang mengancam anak-anak mereka, terutama di usia sekolah. 

Pada usia ini, di mana keterampilan teknologi makin tumbuh, anak-anak menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber. 

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenppa) menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia berusia 12-17 tahun kerap menjadi korban pelecehan dan eksploitasi seksual daring. Ini adalah peringatan serius bahwa perlindungan mereka di dunia maya sama pentingnya dengan di dunia nyata

Cyberbullying: Memahami Ancaman dan Pencegahannya

Bukan hanya pelecehan seksual, tetapi ancaman lainnya juga mengintai di dunia siber. 

Penelitian yang dilakukan oleh Center for Digital Society (CfDS) pada Agustus 2021 mengungkapkan fakta mengenai kasus cyberbullying di Indonesia. Studi ini berfokus pada pelajar usia 13-18 tahun dan menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. 

Dari 1.895 siswa yang disurvei, 45,35 persen mengakui pernah menjadi korban cyberbullying, sementara 38,41 persen di antaranya justru menjadi pelaku. 

Sosial media seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook menjadi panggung utama bagi kasus-kasus ini. Sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi, anak-anak perlu dibekali pengetahuan yang kuat tentang dampak buruk cyberbullying serta bagaimana cara melaporkannya.

Gen Z Berbagi dalam Keterbatasan Keamanan

Adalah fakta tak terelakkan bahwa Generasi Z, yang berusia antara 11 hingga 26 tahun, telah menjadi pengguna aktif media sosial. Namun, dalam semangat berbagi ini, tersembunyi risiko besar. 

Laporan Kaspersky mengungkapkan bahwa meski memiliki pengetahuan tentang keamanan online, Gen Z rentan terhadap penipuan. Lebih dari setengah dari mereka (55 persen) telah mengungkapkan informasi pribadi di media sosial, seperti nama, tanggal lahir, dan lokasi. 

Bahkan lebih mengkhawatirkan, sebanyak 72 persen dari mereka tak mampu mengidentifikasi penipuan phishing, dengan 26 persen di antaranya telah menjadi korban. 

Generasi ini telah menjadi sasaran empuk bagi praktik penipuan dan perlu diberi pemahaman tentang keamanan siber secara menyeluruh.

Tantangan Baru dalam Mengawal Anak-Anak Digital

Orang tua kini berhadapan dengan tantangan baru dalam mendidik anak-anak di era digital. Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, menyoroti perubahan paradigma ini. 

"Dulu saat jam sekolah, orang tua paling khawatir dengan raport atau nilai dan hasil akhir sang buah hati. Kini situasinya berbeda," ujarnya. 

Kesadaran akan potensi bahaya yang mengintai di dunia maya telah menggeser fokus perlindungan. 

Orang tua perlu mengambil langkah proaktif dengan berkomunikasi secara rutin, mendidik anak-anak tentang bahaya digital, menciptakan suasana keterbukaan, dan menegaskan batasan penggunaan teknologi.

Teknologi sebagai Pelindung Kedua

Kaspersky tidak hanya memberikan peringatan, tetapi juga solusi. Perusahaan ini menawarkan Safe Kids, teknologi yang dapat memantau dan melindungi anak-anak dari gangguan online yang berbahaya. 

Perlindungan ini mencakup tidak hanya konten yang tidak pantas, tetapi juga upaya untuk menghindari penipuan dan bahaya lainnya. 

Safe Kids yang diintegrasikan secara otomatis dalam Kaspersky Premium dapat menjadi perlindungan tingkat kedua yang efektif. Ini adalah langkah nyata dalam memastikan keamanan anak-anak di era digital yang penuh dengan risiko.

Menghadapi Tantangan dan Membangun Kesadaran

Dalam dunia di mana teknologi semakin melekat dalam kehidupan anak-anak, perlindungan online menjadi suatu keharusan. Orang tua memiliki peran sentral dalam mengedukasi, membimbing, dan melindungi anak-anak dari bahaya online. 

Kesadaran akan risiko dan upaya aktif untuk membatasi paparan terhadap ancaman digital adalah kunci dalam mewujudkan generasi yang aman, cerdas, dan berdaya saing di dunia maya yang semakin kompleks. 

Melalui pendidikan, komunikasi, dan teknologi yang tepat, kita dapat membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan siber dengan bijak dan penuh keyakinan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun