Sedangkan perbedaanya adalah pada bentuk tariannya, bentuk dari Barongan itu sendiri. Pada Reog Ponodogo berupa kepala singa dan di atasnya terdapat burung merak di atasnya sedangkan pada barongan Blora tidak ada. Jaranan Kediri walaupun ada tokoh hariamau akan tetapi yang lebih ditonjolkan atau menjadi peran utama adalah Caplokan, berbentuk kepala naga dengan memakai mahkota di dalamnya. Meskipun mempunyai banyak persamaan dan perbedaan di masing-masing daerah, tetap saja dalam pementasan mempunyai ciri khas yang berbeda-beda baik dari segi gerak tarinya, alat dan properti yang digunakan serta tokoh didalamnya.Â
Pada Bafongan Blora terdapat dua pasulan penari yang menaiki jaran yang terbuat dari kepang. Yaitu pasukan pria dan pasulan perempuan. Acara pementasan Barongan akan diawali oleh penampilan tarian barong, kemudian dilanjutlan oleh tarian jaranan putri kemudian tarian Pujnaggaanom. Setelah selesai, dilanjutkan dengan tarian jaranan putra. Sedangkan swsi terakhir adalah tarian "rampokan", artinya semua pemain akan menari bersama kecuali Pujangga anom.Â
Pada akhirnya sesi pertunjukan yang paling dinantinkan oleh penonton adalah kesurupan. Pada akhir pertunjukan rampokan biasanya pemain akan mengalami kesurupan dan akan bertingkah aneh di luar kebiasaan. Disinilah peran bopo dalam mengendalikan pemain yang sedang lesurupan agar tidak membahayakan pemain lain ataupun penonton.Â
Setelah disadarkan kemudian pertunjukan pun selesai. Urutan acara maupun durasi acara dapat berubah melihat kondisi dilapangan dan kreasi oleh paguyuban tersebut. Kesenian Barongan tidak hanya berkembang di kota Blora akan tetapi sudah berkembang di berbagai daerah di Indonesia termasuk di Kota Batam. Umumnya, para perantau yang membawa kesenian daerah Blora ini dan dilestarikan tanpa merubah pakem kesenian tersebut. Di Kota Batam BMJ atau Blora Mustiko Joyo merupakan sebuah wadah yang membawa kesenian Barongan asli Blora di kota Batam.
Semangat seniman-seniman Barongan di kota Batam dan keinginan untuk "nguri-nguri budaya Jawi" telah mewujudkan kesenian ini bisa eksis sampai 2018 dan semakin berkembang ke depannya. Di bawah payung BMJ yang merupakan warga asli Blora kesenian Barongan dapat dikenal dan dinikmati di kota Batam yang multikultural ini. Semoga kedepannya semakin berkembang sehingga tidak goyah oleh kebudayaan asing. Setidaknya bisa membawa pesan kepada generasi muda untuk mencintai budaya sendiri dan tetap memelihara kearifan lokal.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H