Mohon tunggu...
AGUS WAHYUDI
AGUS WAHYUDI Mohon Tunggu... Jurnalis - setiap orang pasti punya kisah mengagumkan

Jurnalis l Nomine Best in Citizen Journalism Kompasiana Award 2022

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dewi Kidul

27 Oktober 2019   03:26 Diperbarui: 27 Oktober 2019   15:10 182
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Kalau Mimi yakin suara dari lukisan, itu sih halusinasi. Pikiran dan hati lagi nggak nyambung," Bagas membatin.

Sebelumnya, Bagas juga pernah dengar pengakuan Karno, teman SMA-nya. Kala bertandang ke rumahnya, Karno merasa ada yang ganjil ketika mengamati lukisan karya Bagas. Karno melihat pesona yang jauh di luar kewajaran.  "Apa yang kau maksud di luar kewajaran?" Bagas penasaran

Karno tak bisa menjelaskan detail. Dia hanya bilang, semua itu bisa dirasa bila yang melihat bisa memosisikan diri sebagai objek. Karena begitulah syarat mengapresiasi karya seni yang punya getaran magis. Butuh intuisi yang kuat.

Bahkan, aku Karno, saking lamanya memandangi, bukan cuma nuansa estetika yang tercecap. Libidonya juga meninggi. Karno sangat ingin bercinta dengan sosok perempuan dalam di lukisan itu. 

Bagas menyeringai. Halusinasi lagi, tuding dia. "Kamu sudah lama menduda, kawan. Segeralah menikah. Dari pada mengomentari yang nggak jelas."

"Nggak Gas, ini soalnya.."

"Sudahlah , makin banyak kamu komentar, makin kabur. Aku jadi ingat cita-citanya dulu kan jadi ilusionis," sindir Bagas.

Yang ini lain lagi. Suatu malam, Bagas tertegun melihat sikap Intan. Bocah berusia tiga setengah tahun. Intan menangis keras sambil tangannya menunjuk-nunjuk lukisan dia . Seluruh keluarga Bagas panik. Mereka kuwalahan menenangkan bocah itu. Tangis Intan teramat janggal.

"Barangkali kamu harus berkompromi, Gas. Saya sangat menghargai bila kamu tidak memajang lukisan lagi di serambi. Terserah, mau kamu pajang di mana. Pokoknya jangan di serambi," pinta Rafika, ibu Bagas.

Bagas menyerah. Lukisan yang belum sempurna itu pun dilorot. Dipindah ke gudang. Dekat mobil VW keluaran 1972 buatan Jerman peninggalan ayahnya. Ini upaya terakhir. Menghidari penghakiman orang-orang atas lukisannya. Dia berharap tak ada yang menyangkut-pautkan seni dengan mistisisme. Bagi dia, mistisisme ada karena ketidakmampuan manusia menegakkan jati dirinya.

Namun, pengorbanan Bagas belum cukup. Seharian ini Intan merengek. Suhu badannya meninggi. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Tidur tak jenak. Keluarga Bagas panik. Dan, lagi-lagi, keluarga curiga penyebabnya lukisan itu . 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun