Jika dihubungkan dengan hikmah wajibnya berpuasa, maka sangat tepat jika nestapa atau derita saudara-saudara kita di Palestina, khususnya di Gaza menjadikan kita hamba yang mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita di Indonesia. Maka tidak sepantasnya, kita melupakan mereka dalam doa-doa malam kita. Percayalah, salah satu pertanyaan di alam kubur nanti adalah "siapakah saudaramu" maka kita tidak hanya dituntut mampu menjawab secara lisan kelak, tetapi terlebih dahulu harus diamalkan atau termanifestasikan di zaman sekarang. Apalagi saat ini mereka sedang sakit, bahkan merana di bawah penindasan Zionis Israel.
Kita bersyukur, Indonesia termasuk negara yang aktif menunjukkan simpati dan empati. Semoga secara individu kita termasuk dalam bagian simpati dan empati itu. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang lalai karena asyik menikmati jamuan berbuka puasa dan sahur, khusyuk dalam salat-salat malam tetapi melupakan sepenggal doa untuk mereka.Â
Ada segelintir yang mengatakan kenapa harus membantu yang jauh sementara yang dekat juga ada yang mengalami kelaparan dan penderitaan. Tanyakan pada mereka apakah mereka yang jauh tidak membantu kita saat tertimpa bencana? Jadi bagaimana sikap yang terbaik, tentu mengutamakan yang dekat. Jika masih ada kelebihan harta kita sedekahkan kepada saudara jauh yang tertimpa musibah. Jika tak mampu menyumbangkan materi, bukankah doa juga bisa kita panjatkan. Jika doa saja tak mampu kita kirimkan maka betapa kikirnya kita yang mengaku seorang Muslim ini.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H