Meski demikian, Yordania juga aktif membantu Palestina secara medis. Negara ini telah menyiapkan rumah sakit lapangan di Gaza dan intens mengirimkan perlengkapan medis ke rumah sakitnya tersebut melalui personil Angkatan Udara yang disebut oleh Raja Abdullah II sebagai prajurit tak takut mati.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa konflik Israel-Hamas memperjelas keberpihakan beberapa negara di dunia terhadap masa depan Palestina. AS memilih berhati-hati dengan tidak membenarkan semua tindakan dan keputusan Israel.Â
Meski demikian, negara adidaya ini tidak melakukan langkah konkret pencegahan termasuk secara politis di PBB. Tampaknya AS mencoba menerapkan standar ganda demi menghindari konfrontasi dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Apalagi beberapa negara di kawasan itu merupakan sekutu mereka seperti Arab Saudi dan Yordania.
Sikap AS memilih berhati-hati menyikapi konflik Israel-Hamas juga dengan "merelakan" pangkalan militernya di Suriah dan Irak menjadi "bulan-bulanan" Houthi di Yaman hingga mengakibatkan 45 pasukannya tewas. Meski demikian, belum ada sinyal mereka melakukan serangan balasan.Â
Faktor terakhir mengapa AS sangat berhati-hati dan tidak gegabah, karena Joe Biden paham betul bahwa Hamas tidak sendirian. Ada pasokan senjata dari China, Rusia dan Iran bahkan operasi militer dari sekutu Iran yakni Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Belum lagi tekanan politik negara-negara besar di Timur Tengah seperti Mesir, Turki, Arab Saudi dan Yordania. Negara yang disebut terakhir---meski kurang populer seperti Mesir, Turki dan Arab Saudi---tetapi sepak terjangnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Yordania memiliki pengaruh besar di mata negara-negara Arab dan Timur Tengah. Salah satu penggagas dan pendiri sekaligus pemimpin Organisasi Konferensi Islam (OKI) adalah Raja Abdullah dari Yordania.
Pengaruh Yordania tidak sebatas di Timur Tengah atau dunia Arab, kita masih ingat bagaimana Yordania memprakarsai voting di majelis umum PBB terkait usulan gencatan senjata Israel-Hamas baru-baru ini. Meski ditolak oleh 14 negara, tetapi Yordania telah berhasil membuka mata dunia terkait sikap negara-negara di dunia terhadap konflik Israel-Hamas dan kemanusiaan di Palestina.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H