Bagi yang pernah menamatkan Sekolah Dasar (SD), tulis-menulis sangat mungkin dijadikan sebagai sebuah hobi, terlebih pada era ponsel pintar telah tergenggam dengan mudah dewasa ini. Pelajar bahkan emak-emak tidaklah gugup lagi jika menulis situasi dirinya terkini.
Hobi juga merupakan upaya mengalihkan kebosanan terhadap kerutinan. Syukur-syukur ada yang bisa bekerja sesuai dengan hobi. Syukur-syukur ada yang bisa menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari perolehan gagasan atau inspirasi untuk diolah menjadi sesuatu yang sesuai dengan hobi.
Hal tersebut merupakan pemikiran saya saja, karena saya sudah lama menamatkan SD. Dan, jika kondisi kesehatan memadai, saya akan terus menulis, di samping menggambar.
Memilih dan menekuni kegiatan tulis-menulis merupakan upaya menyederhanakan gaya hidup. Menyerderhanakan gaya hidup di sini berarti bisa dilakukan seorang diri dan tidak repot, karena kegiatan satu ini tergolong murah. Tidak perlu tempat yang mewah alias lengkap dengan aneka fasilitas. Tidak perlu diskusi atau rapat. Tidak perlu juga suguhan berkelas restoran.
Kalau mengenai alat, relatif. Buku tulis, pulpen, dan komputer jinjing (leptop) berkapasitas usang. Ketika tidak membawa leptop, saya menggunakan buku ntulis dan pulpen untuk melakukan kegiatan tulis-menulis, khususnya merekam suasana, dan dialog-dialog yang unik.
Saya menekuni kegiatan ini sebagai hobi sejak lebih dari dua puluh tahun lalu. Hobi lainnya, misalnya berolah raga sepakbola, bola voli, pingpong, atau bulutangkis, saya singkirkan. Pasalnya, tidak mungkin saya bisa melakukannya seorang diri, dan saya tidak suka mengajak orang lain yang mungkin sedang repot dengan urusan kesehariannya.
Bukan hanya pasal berdua atau bersekian dengan mitra, melainkan pula soal usia. Berolah raga memiliki batas waktu kemampuan fisik. Menjadi olahragawan tidaklah bisa sampai tua bangka. berbeda dengan pehobi tulis-menulis, 'kan?
Bermain gitar juga terpaksa saya singkirkan, meskipun kadang-kadang saya bermain gitar kalau ada di dekat saya. Gitar akustik saya sudah entah di mana, dan kemampuan saya hanya terbatas pada jurus Am-Em-G-F. Itu pun lagu-lagu usang yang tidak perlu melincahkan ujung-ujung jemari. Mau menjadi pemusik, mana mungkin!
Memancing juga hobi saya, khususnya memancing di air tawar. Sejak SD saya gemar mancing. Akan tetapi, semenjak pancing saya hilang (dicuri), saya jarang memancing. Kalaupun bisa memancing, pasti karena ada pancing pinjaman. Saya malas membeli pancing lagi.
Hobi yang benar-benar saya tekuni hampir setiap hari, ya, itu, tadi. Tulis-menulis. Menekuni hobi tulis-menulis sekaligus belajar mengenai genre dan konvensi-konvensinya. Internet memudahkan saya mencari informasi, baik usang maupun kini, yang berkaitan dengan hobi satu ini. Terkadang saya berkomunikasi dengan para penulis agar saya bisa belajar lebih mendalam.
Mengenai bahan atau gagasan, saya selalu mudah menemukannya. Bisa berkaitan dengan profesi, bisa pula berkaitan dengan situasi lokasi (tempat) dan sosial terdekat. Bentuk olahannya bisa berupa fiksi dan non-fiksi. Sederhana saja, 'kan?
Hobi pun saya nafkahi. Yang paling jelas, saya menulis selalu didampingi oleh minuman, baik kopi, teh atau sekadar air putih, buku cetak, dan kuota internet. Terlebih jika tulisan-tulisan berakhir dalam bentuk buku kumpulan tulisan saya sendiri, jelas ada ongkosnya, baik membuat badan usaha (untuk ISBN) maupun ongkos cetak dan kirim.
Hobi saya memang tergolong murah, tetapi tidaklah gratis, apalagi menjadi sebuah buku. Oleh karenanya saya pun harus bekerja, menyisihkan sebagian penghasilan, dan berdiskusi dengan istri mengenai kemungkinan ongkosnya untuk menghidupi hobi saya.
*******
Ruang Rusip, Sri Pemandang Atas, 2020
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H