Takut akan Allah mendorong penghormatan, kagum, dan ketaatan kepada-Nya, membimbing individu dalam membuat keputusan yang benar dan baik. Santo Agustinus (354-430) mengajarkan bahwa "takut akan Tuhan adalah awal kebijaksanaan," karena menghormati Allah membuat seseorang bijaksana dalam menjalani hidupnya.
Hidup dalam takut akan Allah berarti mengintegrasikan prinsip-prinsip moral dan ajaran Gereja dalam kehidupan sehari-hari. Cara-cara praktis untuk hidup benar dan bijaksana termasuk berdoa, menerima sakramen, membaca Kitab Suci, mengikuti ajaran Gereja, beramal, dan menjaga integritas moral.
Takut akan Allah membawa banyak manfaat dalam kehidupan pribadi dan komunitas. Kesadaran akan kehadiran Tuhan memberikan kedamaian batin, kebahagiaan sejati, dan bimbingan moral. Ini juga menciptakan keharmonisan sosial, memberikan teladan, perlindungan dari kejahatan, dan menolak dosa.
Paus Fransiskus, dalam ensiklik Laudato Si' (2015), menekankan pentingnya hidup dalam keharmonisan dengan Tuhan, sesama, dan ciptaan, serta memperlakukan dunia dan sesama dengan kasih dan hormat, sesuai dengan perlakuan Tuhan kepada kita.
Paparan di atas mendeskripsikan makna takut akan Allah dari perspektif Katolik. Takut akan Allah lebih dari sekadar rasa takut, melainkan rasa hormat yang mendalam dan kekaguman terhadap kebesaran Tuhan.
Kesadaran akan dosa dan kebutuhan akan penebusan memperkuat rasa takut akan Allah, mendorong umat untuk hidup dalam pertobatan dan kesucian. Ketaatan dan penyerahan diri kepada kehendak Tuhan adalah manifestasi dari rasa hormat dan kasih yang mendalam. Takut akan Allah adalah awal kebijaksanaan, memimpin kita untuk hidup benar dan bijaksana sesuai ajaran Katolik, membawa manfaat besar baik secara pribadi maupun dalam komunitas. (*)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI