Mohon tunggu...
Caesar Naibaho
Caesar Naibaho Mohon Tunggu... Guru - Membaca adalah kegemaran dan Menuliskan kembali dengan gaya bahasa sendiri. Keharusan

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Restu Ibu Hantarkan Maroko Lolos Babak 8 Besar Piala Dunia Qatar

7 Desember 2022   13:58 Diperbarui: 7 Desember 2022   14:11 546
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kejutan tambah kejutan terjadi di perhelatan akbar Piala Dunia yang kali ke-22 ini dihelat di Qatar, negara -- keamiran di Timur Tengah yang terletak di sebuah semenanjung kecil di Jazirah Arab, di Asia Barat. Alasan FIFA kala itu menjadikan Qatar jadi tuan rumah yang otomatis mengubah jadwal dan kebiasaan Piala Dunia diselenggarakan pertengahan tahun menjadi akhir tahun atau di bulan Nopember hingga Desember ini, adalah untuk mengembangkan olah raga paling terkenal, sepak bola ke Timur Tengah.

Namun apakah benar tujuan mulia dari FIFA itu? Entahlah, tapi yang sekarang tersaji usai dihelat dan babak 16 besar telah usai, kita telah menyaksikan sendiri bagaimana sengitnya partai per partai, dimana timnas Qatar sendiri sebagai tuan rumah malah hanya dapat mencetak satu gol tanpa kemenangan sekalipun, bahkan Der Panzer, Jerman harus pulang duluan karena salah taktik atau prediksi, atau memang karena benar tak mengikuti aturan di Qatar yang melarang LGBT hingga peredaran minuman beralkohol seperti Bir? 

Entahlah, yang pasti cuacana panas, padahal sudah memasuki musim dingin, juga jadi musuh bagi tim-tim Eropa yang terbiasa dengan cuaca dingin bisa jadi ikut mempengaruhi performa tim yang tersingkir bukan? Bisa jadi pemirsah...

Spanyol Tersingkir oleh Maroko

Piala Dunia kali ini bisa dikatakan jadi 'kuburan' bagi tim-tim kuat yang diprediksi bakalan lolos ke babak perdelapan final Piala Dunia Qatar, teranyar, Matador Spanyol harus tersingkir dari tim yang masih bisa dikatakan pendatang baru untuk dianggap kuda hitam di perhelatan akbar empat tahunan ini, namun mampu menunjukkan sejarah baru dengan menumbangkan salah satu tim besar Eropa yang diprediksi banyak pihak minimal melenggang hingga babak semi final, namun harus tumbang di babak 16 besar ini dengan cara menyakitkan.

Sayatan Samurai Biru Jepang yang sudah menodai perjalanan karir Luis Enrique Martinez -- begitu saya hafal namanya, karena salah satu gelandang favorit saya kala membela Real Madrid dan membelot ke Barcelona ini -- sebagai pelatih Spanyol harus tercoreng di babak gugur kemarin karena kalah dan harus jadi runner up Grup E dikangkangi oleh Jepang yang jadi juara grup.

Kini kembali wajah Luis Enrique tercoreng karena kekalahan menyakitkan dari kuda hitam Maroko yang datang ke Qatar dengan semangat doa dan etos kerja keras yang dimiliki oleh anak asuh Walid Regragui, pelatih berdarah Perancis yang juga mantan pesepakbola asal Maroko berposisi sebagai bek dan pernah bermain di Liga Perancis dan Spanyol yang tentunya memiliki segudang pengalaman bagaimana cara bertahan yang baik yang mampu dia tularkan pada anak buahnya yang buktinya sanggup menahan gelombang serangan Matador Spanyol dengan gaya tiki-takanya.

Ya, pertandingan seru yang dimainkan di Stadion Education City, Al Rayyan, Qatar, pada Selasa (6/12/2022) malam WIB, Maroko tampil percaya diri menghadapi tim besar Matador Spanyol. Taktik zone defense yang rapat dengan formasi dasar 4-1-2-3, namun setelah bermain di lapangan, Walid Regragui mampu menginstruksikan para pemainnya untuk mengembangkan formasinya menjadi 4-5-1 dengan menumpuk pemain tengah berhasil membuat Matador Spanyol yang mengandalkan tiki-taka-nya tak berkembang.

Tangan dingin dan sentuhan magis Walid Regragui mampu membuat para pemainnya Achraf Hakimi dan kawan-kawan sanggup bermain disiplin dan mengatur tempo permainan dengan baik. Dari sisi penyerangan, duo sayap Atlas Lions yang dihuni oleh Hakim Ziyech dan Sofiane Boufal menjadi pemain yang selalu diandalkan mengeksploitasi lini pertahanan lawan. Bola-bola yang dialirkan ke lini depan cenderung kombinasi antara umpan-umpan pendek dan panjang.

Tipe permainan yang ciamik dan tak terlalu cepat membuat tim lawan frustasi, terbukti para pemain Spanyol dibuat frustasi dan tak berkembang permainannya sehingga skor hingga babak perpanjangan waktu tetap kacamata alias 0-0.

Sungguh kerugian besar bagi Spanyol yang angkat koper dari Qatar dan The Atlas Lion seperti kita ketahui menang di babak adu tos-tosan alias penalty. Wakil Afrika, Maroko mampu menahan imbang permainan Spanyol dan memaksa pertandingan babak 16 besar ini harus diakhiri lewat adu pinalty.

Doa Ibu Hantarkan Maroko

Doa Ibu Sepanjang Masa, begitulah pepatah yang kita kenal bukan? Disetiap langkah kita, kita menginginkan agar doa ibu merestuai segala aktifitas atau pekerjaan kita, agar sukses dan segala usaha dikabulkan.

Tak terkecuali itu mungkin yang dipikirkan oleh skuad The Atlas Lion dalam perhelatan akbar empat tahunan Piala Dunia 2022 ini. Maroko datang ke Qatar dengan predikat kuda hitam, namun harus dapat mengukir sejarah dan benar saja, tim Afrika berjuluk 'tentara merah' ini menjadi tim Afrika keempat yang dapat lolos ke babak 16 besar Piala Dunia usai Kamerun (1990), Senegal (2002), dan Ghana (2010).

Itu semua tak lepas dari berkat doa ibu para pemain Qatar yang selalu hadir di stadion kala Achraf Hakimi dan kawan-kawan bermain di lapangan, ibu dari para pemain Qatar ini datang ke stadion dan setiap selesai pertandingan, maka kita lihat pemain seperti Achraf Hakimi, gelandang Abdelhamid Sabiri, Hakim Ziyech, kiper Sevilla Yassine Bono, dan para pemain Marokok lainnya akan mendatangi tribun penonton dimana tempat ibu mereka berkumpul untuk merayakan kemenangan itu dengan meminta doa restu dan ciuman ibu di kening anak-anak mereka.

Sungguh tontonan yang sangat menarik dan mengubah kebiasaan yang selama ini terjadi dilapangan, dimana para pemain biasanya usai laga malah menjumpai isterinya dan juga anak-anak mereka, namun oleh Tim Maroko, kita lihat peranan ibu sangat penting dalam perjalanan Timnas Maroko ke babak delapan besar usai menumbangkan Spanyol.

Memang seperti diberitakan dari sumber ini, bahwa atas instruksi pelatih Walid Reragui dan presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko, Fouzi Lekjaa, anggota keluarga para pemain diberangkatkan secara khusus ke Qatar. Pelayanan bintang 5 juga diberikan, walaupun sebagian orang tua memilih mendukung anak-anaknya dari tribun biasa, seperti kita lihat di layar televisi dimana Fatima, ibunda Achraf Hakimi selalu mendukung Hakimi dari tribun biasa, membaur dengan penonton, sungguh kontras dengan perlakuan terhadap para WAGs yang selalu duduk di VIP.

Maroko sukses 'mendobrak' dengan menonjolkan peran orangtua dalam kesuksesan mereka hingga sampai ke babak perempat final. Adalah Achraf Hakimi, pemain berusia 24 tahun yang kini merumput bersama Paris Saint Germain (PSG) itu kerap tertangkap kamera menghampiri sang ibunda ke arah tribun penonton usai laga. Mulai dari pertandingan awal penyisihan grup hingga tadi malam kala memulangkan Spanyol ke negaranya, Hakimi konsisten mendatangi ibuda tercinta dan mencium keningnya tanda terima kasih karena telah diberikan restu untuk menang.

Hakimi dan Bono Pahlawan Kemenangan Maroko

Tak berlebihan juga apabila Hakimi jadi penentu kemenangan yang membawa Maroko lolos untuk pertama kalinya sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di ajang paling bergengsi ini, juga menjadi tim pertama Afrika yang berhasil mengalahkan Spanyol sejak 1998.

Keberhasilan Tim Singa Atlas ini melenggang jauh, tak lepas dari doa ibu dalam diri Hakimi yang jadi eksekutor keempat tim. Dengan tenang, Hakimi menuju kotak 12 pas dan paling mengesankan tentunya proses penalty Hakimi yang sukses melakukan tendangan panenka yang berhasil mengecoh kiper Spanyol, Unai Simon, jadilah Maroko melenggang.

Kehadiran ibunda itulah yang membuat seorang Hakimi tenang dan penuh percaya diri untuk maju jadi eksekutor terakhir, Hakimi sangat percaya diri ketika melihat ibunya ada distadion, itulah kunci sukses, maka kita lihat bagaimana garangnya Achraf Hakimi dan Noussair Mazraoui memainkan peran penting ketika tim dalam keadaan bertahan. Dilansir Whoscored, mereka jadi pemain dengan rata-rata tekel terbanyak per pertandingan. Hakimi mencatatkan 4,3 tekel, sedangkan Mazraoui membukukan 3,3 tekel.

Ketika menjadi eksekutor terakhir, maka mental baja harus dimiliki pemain, tak jarang penendang terakhir gagal, seperti Roberto Baggio di Piala Dunia USA'94, namun Hakimi mampu menjalankan tugasnya dengan baik tanpa grogi plus tendangan panenka menjadi penentu Maroko ke babak 8 besar.

Juga penampilan Yasin 'Bono' Bounou, kiper yang bermain di klub Sevilla, Spanyol ini berhasil menepis Sarabia dan Busquets, plus tembakan Soler yang membentur tiang. Sementara Sabiri dan ZIyech mencetau dua gol awal Maroko, sayangnya Benoun gagal. Keberhasilan Bono ini mencatatkan namanya jadi kiper asal Afrika pertama dan satu-satunya yang mampu menepis dua tendangan dalam satu laga adu penalti Piala Dunia. Tak heran apabila Bono ini terpilih menjadi penampil terbaik alias man of the match laga Maroko vs Spanyol.

Akhirnya, kita diajarkan bahwa menghormati dan meminta restu Ibu sangat besar manfaatnya, bahkan dengan membawa Ibu saat pertandingan penting, dapat meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan mujizat nyata...selamat para Singa Atlas....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun