"Ilmu tanpa aplikasi adalah ibarat durian tanpa rasa." begitu kata pepatah, atau sebenarnya pernyataan tersebut yang baru saya karang barusan. Hehehe. Tetapi esensinya adalah bahwasanya Nvidia tampaknya tidak hanya ingin menjual teknologi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai edukasi.
Melalui program seperti Inception Accelerator, Nvidia sering mendukung startup teknologi yang menjanjikan. Bayangkan jika program serupa masuk ke Indonesia. Startup lokal berbasis AI bisa mendapatkan bimbingan langsung dari pakarnya, bahkan akses ke teknologi GPU Nvidia untuk pengembangan produk.
Tidak hanya itu, kolaborasi dengan universitas ternama dapat menghasilkan program pelatihan AI tingkat lanjut, mempersiapkan talenta lokal agar tidak kalah bersaing di pasar global.
Namun, seperti yang dikatakan Isaac Asimov, "Education isn't something you can finish." Artinya, pendidikan berbasis AI harus dirancang sebagai investasi jangka panjang, bukan proyek semusim.
#3. Transformasi Industri: Dari Sawah hingga Rumah Sakit Digital
Ketika berbicara AI, pikirkan lebih dari sekadar chatbot pintar atau aplikasi pencari lagu. Teknologi ini memiliki potensi besar untuk mengubah industri secara menyeluruh.
Di sektor pertanian, misalnya, AI berbasis Nvidia dapat membantu petani memprediksi cuaca, memaksimalkan hasil panen, atau bahkan mengotomatisasi alat berat.
Di rumah sakit, sistem diagnosis berbasis AI akan mempercepat analisis medis.
Sedangkan di manufaktur, otomatisasi berbasis AI dapat meningkatkan efisiensi produksi dengan signifikan.
Namun, seperti memodifikasi motor bebek menjadi superbike, transformasi ini butuh waktu dan investasi besar. Dan jangan lupa, kesiapan regulasi juga menjadi faktor penentu kesuksesannya.