Tepat di saat aku berpura-pura biasa saja, di waktu kamu mengangkat panggilan dari perempuan yang aku yakini akan menjadi rumah terbaik untukmu.Â
Bedanya kini, aku sedang berpura-pura biasa saja saat karib kita tengah membual tentangmu di hadapanku. Aku yang sebenarnya sudah menyadari bahwa apa yang dikatakannya adalah candaan belaka, justru terbawa dalam alur yang kini memaksa ingatanku untuk mengenang apa yang semestinya sudah aku haramkan.
Aku kira, aku kuat untuk menertawakan apa yang telah kita lewati dengan rumus "waktu + tragedi = komedi". Namun faktanya aku keliru, aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku untuk mempertahankan segala kepura-puraan ini.Â
Bahkan lucunya, distraksi yang aku upayakan dari skenario yang awalnya disengajakan untuk sebuah proyek bersama lelaki yang sepintas lebih baik darimu pun gagal. Iya, aku gagal menggeser posisimu yang hampir sejajar dengan sebuah nama yang telah kultus dalam hidupku.
Mungkin terkesan berlebihan dan mustahil ketika aku menempatkanmu di titik yang hampir sejajar dengan dia, tapi faktanya memang demikian.Â
Kamu berhasil membuatku tertahan dalam situasi yang terkadang membuatku sadar bahwa, tidak semua hal harus diperjuangkan. Bukan berarti aku tidak menyayangimu, justru karena aku menghargaimu.
Dibilang benci, aku memang benci. Bahkan aku sering mengutuk diriku sendiri yang telah menjadi alasan seorang perempuan menyayat nadinya untuk mempertahankanmu. Dibilang marah, aku memang marah dengan diriku yang bisa senaif itu saat menitipkan kepercayaan padamu. Tapi, aku bisa apa selain menghardik diri sendiri ketika nalar dan naluriku terus berbenturan seperti ini?
Nalarku bilang, aku harus berhenti. Namun di saat yang bersamaan, naluri menahanku agar tetap di tempat. Entah apa maksud dari semua ini, kadang aku juga heran! Kenapa Tuhan menempatkan aku di posisi yang absurd seperti ini? Dan, harus berdiam diri hingga kapan lagi aku dengan posisi yang seperti ini? Ha? Coba! Coba bantu aku menerjemahkan segala absurd ini!Â
Aku lelah! Sungguh, aku lelah dengan ketidakjelasan ini. Kita tidak layak disebut "kita", tapi semesta terus-terusan menempatkanmu dan aku di sebuah irisan. Sungguh, aku tidak mengerti lagi, harus bagaimana aku ini? Menunggu segala urusanmu berakhir? Atau, aku harus benar-benar mengamnesiakan diri saat menetap di negeri orang?
Hahaha, BRENGSEK!
Sebuah diksi yang tepat untuk melabeliku. Seseorang yang hingga detik ini tidak sanggup memahami perasaanya sendiri. Air mataku masih menetes tiap kali mengingat seorang lelaki bergingsul dengan kalung salibnya yang khas. Aku juga masih merasakan sesak tiap kali teringat seorang pria yang mencandui lendir di sudut diskotik favoritnya.Â