Ingat masa-masa sekolah anda, bukankah selalu ada si tampan yang menyebalkan, atau si cantik namun busuk kelakuannya? Jika penampilan mengarahkan pada kesan pertama yang baik, attitude andalah yang akan menentukan nilai total anda di hadapan orang lain. Jika penampilan anda 9 namun kepribadian anda nol besar, maka hasilnya 9x0=0. Jadilah pribadi yang 10x10. Mantap penampilannya, indah kepribadiannya.
Â
Ketiga, pilih pergaulanmu!
Â
People will also think about with whom you spend most of your time with, the nerds, the bullies, or the cool kids.
Â
  Mari kita lihat sebuah contoh, Sebut saja Jepri. Pria berumur 28 tahun ini lulusan D3 teknik mesin dan sudah lelah menjadi karyawan perusahaan orang lain. Ia bercita-cita membuka bengkel mobil, karena dia memang sangat tertarik untuk membuat mobil balapnya sendiri. Sepanjang hari ia habiskan waktunya bergaul dan bersantai dengan teman kantor di warung kopi. Ia bercerita kepada teman-temannya tentang keinginannya yang ambisius tersebut. Respon yang ia terima beragam, ada yang mendukungnya, anda yang menertawakannya, ada juga yang malah menakut-nakuti dengan berbagai kisah pilu kegagalan bisnis yang diragukan asal-usulnya. Tidak mengindahkan perkataan mereka, Jepri pun nekat mencari investor sambil perlahan-lahan meninggalkan pekerjaannya. Namun para investor tidak ada yang percaya kepadanya.
  Waktu berlalu dengan sangat cepat. Jepri belum juga mendapatkan titik cerah dari keinginannya untuk memiliki bisnis sendiri, sementara pekerjaannya semakin terlantarkan karena tidak fokus. Saat ia hampir menyerah ia bertemu dengan teman semasa SDnya di tempat parkir baru saja mengunci mobilnya. Mobil itu memiliki kilauan silver dengan kesan berkelas yang aerodinamis. Terkejut, Jepri pun spontan mengajaknya bicara banyak hal. Termasuk soal rencana bisnisnya. Temannya, sebut saja Acep, memberikannya langkah2 jitu untuk mewujudkan keinginannya. Walau ragu dan khawatir, Jepri pun melakukan apa yang dikatakan temannya.
  Inilah yang dilakukannya. Sekarang Jepri lebih fokus pada pekerjaanya. Ia masih memikirkan bisnisnya namun berusaha untuk tidak mengganggu kemampuannya sebagai seorang proffesional. Setelah selesai bekerja, kini ia tidak lagi sering bergaul dan santai di warung kopi. Waktunya ia habiskan untuk bersosialisasi di komunitas pengusaha. Selain itu ia juga aktif dalam kegiatan amal dan pelayanan masyarakat. Di saat yang sama ia selalu berusaha memperluas jarigannya sampai akhirnya ia memiliki banyak kenalan pengusaha. Kali ini pengusaha yang ia tawari untuk investasi dalam bisnisnya sudah mengenal dirinya sebagai seorang yang aktif dalam berbagai kegiatan positif. Tidak lama, setelah beberapa kali berunding Jepri pun berhasil meyakinkan beberapa investor untuk membuka bengkel miliknya. Sekarang Jepri memiliki usahanya sendiri, dan kepercayaan dari banyak orang berkat networking yang ia bangun.
 Harus disadari, bahwa orang-orang menilai kita juga dari dengan siapa kita bergaul. Berdekatan dengan tukang parfum maka kita akan menjadi sewangi bunga melati, berdekatan dengan tukang las, maka kita akan menjadi bau karbit! Maka bergaulah dengan kelompok yang akan meningkatkan citra anda di mata orang lain.
Â