"Bukan mko lagi anak-anak. Waktunya sekarang jadi orang yang lebih baik. Tidak kasihanko itu sama orangtuamu?"
Saya menjadi tidak enak hati karena telah memarahi Didit. Biar bagaimanapun, anak ini sebenarnya memiliki hati yang baik. Dia dibesarkan dengan cinta-kasih oleh kedua orangtuanya. Bahkan, dari ceritanya, dia tidak pernah dimarahi oleh orangtuanya.
Matanya terlihat berkaca-kaca. Saya telah melukai hati kawan saya ini. Dia terus berdiri dan tak beranjak dari tempatnya.
Saya kemudian merangkul dan mengajaknya untuk turun ke kantin dan memesan Pop Mie rasa ayam bawang favoritnya.
Setelah melahap seporsi Pop Mie, dia hanya termenung. Tak ada lagi kicauan tentang film porno seperti biasa. Kami saling duduk berhadapan dan tak ada yang bicara.
"Adnan!" Kemudian dia menepuk bahuku.
Saya melihatnya mengangkat pandangannya yang sedari tadi terus tertunduk. Rupanya, bentakan yang saya lakukan tadi, membuatnya tersadar. Betapa bahagia perasaan saya saat itu. Kawan yang sejak dulu hanya tahu bicara tentang seks, kini terlihat akan menjadi orang yang lebih baik. Saya merasa bangga bisa menyadarkan sahabat saya ini. Hingga kemudian ia menarik nafas lega, dan dengan wajah yang cerah dia berkata.
"Belumpi saya ceritakanko tentang Paris Hilton main sama pacarnya?"
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H