Mohon tunggu...
Adie Sachs
Adie Sachs Mohon Tunggu... Penulis - Hanya Itu

Happy and Succesfull... #Alert #Reveal

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Olok-olok Jokowi, Gita Perlu Malu

1 Februari 2014   02:51 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:16 4958
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Gita Wiryawan pernah menyindir blusukan Jokowi yang dinilai terlalu banyak memperhatikan pasar tradisional.

"Jangan hanya main ke pasar tradisional, sekali kali main dong ke pasar internasional, bisa nggak?".

Demikian kira kira bunyi sindiran Gita seperti ditirukan oleh Effendi Gazali dalam Launching buku "Jokowi [Bukan] Untuk Presiden" di Gramedia Matraman beberapa waktu lalu. Saya sendiri coba konfirmasi berita itu, namun gagal tampil oleh si mbah gugel.

Seandainya sindiran atau anggaplah itu sebagai kritik pada blusukan Jokowi, maka ada kemungkinan Jokowi akan membalas dengan cengengesan khasnya: " he ... he... he...Kalau bisa jangan cuma ngasih makan orang Internasional, kasih kesempatan orang pasar tradisional juga untuk cari makan... he...he...he...".

Saya yakin ucapan Effendi Gazali tersebut direkam dengan baik oleh kamera live streaming di KompasTV ketika itu. Itulah sebabnya saya tidak lagi mencoba cari sumber yang lebih valid dari mbah Gugel. Lagipula saya masih percaya pada telinga kiri dan kanan ini :)

Kembali ke Gita, ucapan Gita yang keluar dari "kesaksian" Effendi Gazali itu ibarat Menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri. Bagaimana tidak, sebagai Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wiryawan yang secara resmi mengundurkan diri dari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II mulai Jumat (31/1) ini, mengandung nada cibir dan acuh pada saat bersamaan. Dan lagi, langkah Gita mundur justru menjadi polemik di tengah konflik beras impor asal Vietnam yang rembes ke pasar atas izin Kementerian Perdagangan (Kemendag).


Sebelumnya kita lihat dulu berita pernyataan Gita berikut.


''Saya memilih mundur untuk fokus pemenangan konvensi capres,'' ujar Gita kepada wartawan. Permintaan ini sudah disampaikan langsung ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dua hari yang lalu. (antaranews.com). Masih menurut Gita, presiden SBY sudah menerima permintaan mundur tersebut dan berlaku efektif 31 Januari ini.

Mundurnya Gita memang patut diapresiasi karena sebetulnya, Dahlan Iskan di program Mata Nazwa pernah menyebut bahwa dia akan mundur dan jadi menteri BUMN daripada jadi peserta konvensi. Ucapan DI tidak terbukti dilakukan dengan konsekuen, justru Gita tanpa ba bi bu, langsung ambil keputusan yang berani. Untuk ukuran orang Indonesia tindakan itu cukup langka dan patut diapresiasi, meski sebenarnya Dubes Indonesia untuk AS, Dino Patti Djalal jauh sebelumnya sudah melakukannya.

Wamendag Bayu Krisnamurthi membantah mundurnya Gita dari jabatan Menteri Perdagangan terkait dengan kasus beras impor yang santer diberitakan beberapa hari terakhir. Inilah yang saya maksud dengan pameo diatas, bahwa Gita terlalu sibuk memberi makanmakan para pedagang Internasional, mensejahterakan pasar asing sementara ia lupa bahwa tugas Menteri Perdagangan adalah memberi jalan yang layak dan mudah bagi arus barang dan komoditas di dalam negeri. Agar lokal dan tradisional tidak hanya menjadi penonton sementara pedagang asing mudah mencekoki pasar ttadisional dengan produk mereka.

Geger Kemendag pimpinan Gita dalam beberapa hari terakhir yang cukup dipusingkan dengan masalah Surat Persetujuan Impor (SPI), yang memungkinkan masuknya beras medium ke pasar induk Cipinang, Jakarta Timur. Apalagi Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Firman Subagyo, meminta kepada aparat penegak hukum harus mengusut tuntas dan menindak tegas masuknya beras impor ilegal 19.600 ton dari Vietnam melalui 83 kali proses pengiriman / importasi. Padahal stok beras nasional dinilai masih cukup dengan cadangan dua juta ton.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun