Makanya, saham jenis ini menjadi senjata andalan saya ketika situasi sedang buruk. Saya masih menyimpannya selama beberapa bulan ke depan, dan berniat menambahnya kalau beberapa bulan berikutnya terjadi tren "bullish".
3. Menyiapkan uang tunai dalam jumlah banyak
Saat kondisi pasar sedang "bearish", keberadaan uang tunai sangatlah penting. Uang tunai ibarat peluru yang siap ditembakkan manakala saham yang dipegang anjlok harganya.Â
Dengan uang tunai yang berlimpah, investor bisa menambah porsi saham di harga yang lebih rendah. Hal itu berpeluang menyelamatkan investasinya dari keganasan si "beruang".
4. Memilih berinvestasi di sektor defensif
Tidak semua sektor akan terdampak tren "bearish". Ada sektor-sektor tertentu yang akan tetap kokoh seganas apapun si "beruang" mengoyak IHSG. Sektor-sektor yang dimaksud ialah perbankan, barang konsumsi, dan layanan kesehatan.
Alasannya cukup sederhana. Dalam kondisi sulit, orang-orang selalu butuh layanan perbankan, konsumsi makanan, dan berobat ke rumah sakit.
Dengan produk yang akan terus dibutuhkan dalam situasi apapun, saham-saham yang terdapat di sektor tadi bisa menjadi pilihan investasi karena penjualannya diprediksi akan tetap kuat.
Alokasi yang digunakan untuk membeli saham pun mesti disesuaikan dengan kondisi pasar. Dalam keadaan "bearish", investor bisa menggunakan 25% dari seluruh dana yang disediakannya. Hal itu dilakukan untuk meminimalkan potensi kerugian yang bisa dialami investor.
5. Mengamati perubahan situasi bursa saham
Suatu saat, tren "bearish" akan berlalu. Tren tersebut akan berganti dengan tren lainnya. Perubahan tren tadi tentu perlu dicermati. Sebab, hal itu akan menentukan keputusan yang akan diambil investor. Apabila terjadi perubahan tren, dan hal itu cukup solid, investor bisa mulai membeli saham.