Bisa jadi ia sering menunda membayar utang, atau sering berutang sana-sini, atau bahkan memboroskan uangnya untuk memenuhi keinginannya alih-alih melunasi utang-utangnya. Makanya, kemudian ia terjerat utang sedemikian besar.
Karena tokonya terus-terusan sepi pembeli, akhirnya ia memutuskan menutupnya. Percuma saja tetap berbisnis dalam kondisi demikian. Bisa-bisa utang yang dimilikinya malah semakin "menggunung".
Namun, ternyata itu tak juga menyelesaikan masalah. Sales mulai berdatangan menagih utang. Setiap akan menerima telepon dari sales, ia menjadi sangat ketakutan. Bingung harus berbicara apa.
Akhirnya ia memutuskan "kabur" ke suatu daerah. Pergi sejauh-jauhnya dari kejaran sales yang terus menuntutnya. Namun demikian, perasaan bersalah terus "menghantui" hidupnya.
Bisa dibayangkan kondisi demikian. Sudah tanpa penghasilan, hidup harus dibayangi jerat utang.
Sejak saat itu, saya tak mendengar kabarnya lagi. Namun, pada bulan Ramadhan kemarin, tiba-tiba saja ia mendatangi toko saya.
Di situ ia bercerita bahwa ia telah menikah lagi. Setelah sekian tahun menjanda, akhirnya ia menemukan pasangan hidupnya kembali.
Mujurnya, suaminya juga bersedia menerimanya apa adanya, termasuk semua utang yang ditanggungnya. Makanya, suaminya berkenan membayar semua utangnya!
Sewaktu bertandang ke toko saya, ia terlihat jauh lebih happy lantaran telah melunasi semua utang-utangnya. Sebuah akhir yang "indah" dari suatu masalah yang pelik!
Sayangnya, tak semua orang, khususnya yang terjerat utang, punya kisah seindah itu. Makanya, sebisa mungkin, dalam menjalani hidup, kita bebas dari utang. Rasanya jauh lebih "merdeka". Kerja enak. Tidur pun nyenyak.
Namun, andaikan betul-betul harus berutang, pastikan dana tersebut dipakai untuk memenuhi suatu kebutuhan, bukannya melampiaskan keinginan, dan tentunya begitu mendapat pemasukan lagi, segeralah bayar utang tersebut sebelum utang itu "meneror" hidup kita.