Socrates mungkin telah mengenali bahwa ia membutuhkan Xanthippe sebagai semacam cermin---seseorang yang akan mengajaknya kembali pada realitas, pada dunia di mana kebijaksanaan tidak seindah dalam teori, di mana kebutuhan dasar manusia lebih penting dari apa pun.
Dan bukankah ini ironi yang luar biasa? Filsuf yang dikenal sebagai bapak pemikiran kritis justru menemukan kebijaksanaan melalui ketegangan tanpa ujung dengan istrinya.
Bagi mereka yang penasaran, Socrates mengajarkan bahwa pernikahan bisa menjadi sebuah bentuk pengabdian tanpa jawaban.
Ketika Xanthippe Menjadi 'Penentang' Filsafat
Xanthippe mungkin bukan istri yang paling sabar, tetapi ia jujur dalam perannya. Masyarakat sering menggambarkannya sebagai perempuan yang berang, selalu menentang ide-ide besar suaminya.
Dalam dunia modern, dia mungkin dianggap 'toxic' atau bahkan terobsesi dengan hal-hal sepele. Tetapi, bukankah dia hanya menginginkan sesuatu yang layak bagi keluarganya?
Bukankah ia, seorang perempuan sederhana, hanya ingin rumah, kehangatan, makanan, dan suaminya di sana, alih-alih kutipan-kutipan tentang hakikat hidup?
Socrates dan Xanthippe adalah refleksi dari konflik abadi antara idealisme dan realisme.
Bagi Socrates, dunia adalah ruang untuk mencari dan mempertanyakan, namun bagi Xanthippe, kehidupan rumah tangga adalah cerminan stabilitas dan ketenangan.
Mereka bertemu di antara dua dunia ini, dan meski sering bertentangan, itulah yang akhirnya membentuk mereka sebagai pasangan yang luar biasa unik.
Di sini, kita belajar bahwa pernikahan bukan soal menemukan seseorang yang 'sama', tetapi soal menerima perbedaan yang tak bisa dijembatani.
Xanthippe memberi warna bagi Socrates yang selama ini hanya hidup dalam bayangan ide-ide besar.