Selain itu, bullying---baik fisik maupun melalui media sosial---memperparah situasi, menjadikan sekolah sebagai tempat yang tidak aman secara emosional bagi banyak siswa.
Studi dari Plan International mengungkapkan bahwa satu dari tiga anak di Indonesia pernah mengalami bullying di sekolah. Pengalaman ini menimbulkan efek jangka panjang: kecemasan, depresi, bahkan rasa putus asa.
Di sisi lain, pandemi yang memaksa transisi ke pembelajaran daring justru menciptakan kesenjangan digital. Bagi anak-anak yang tidak memiliki akses teknologi memadai, ketidakmampuan mengikuti pelajaran membuat mereka semakin terisolasi, bukan hanya dari materi pelajaran tetapi juga dari interaksi sosial yang sangat penting bagi perkembangan psikologis mereka.
Rumah: Tempat Aman atau Sumber Tekanan?
Jika sekolah menjadi tempat utama tekanan akademis, rumah seharusnya menjadi pelindung emosional.
Namun, kenyataan di Indonesia seringkali berlawanan. Banyak anak tumbuh dalam lingkungan rumah yang penuh tekanan, di mana harapan orang tua untuk sukses akademis kerap kali menjadi beban tambahan.
Gaya pengasuhan yang otoriter, disertai dengan kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental, dapat memperburuk kondisi psikologis anak.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan bahwa banyak anak di Indonesia yang mengalami tekanan psikologis akibat ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi.
Orang tua sering kali mengasumsikan bahwa selama anak mereka sehat secara fisik, mereka juga baik-baik saja secara mental. Kenyataannya, tekanan di rumah bisa menjadi faktor utama penyebab gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
Psikolog anak, Lita Gading, menjelaskan, "Banyak orang tua yang masih mengabaikan pentingnya kesehatan mental dan terlalu fokus pada prestasi akademis. Padahal, anak-anak juga membutuhkan dukungan emosional yang konsisten."
Kurangnya kesadaran ini, ditambah dengan stigma yang kuat terhadap masalah kesehatan mental di masyarakat, membuat anak-anak sulit untuk mencari bantuan. Mereka khawatir dianggap lemah atau bahkan tidak didengar.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Menghadapi masalah ini, solusi yang dapat diterapkan tidak hanya bergantung pada satu pihak, tetapi melibatkan sinergi antara sekolah, rumah, dan komunitas. Ada beberapa langkah konkret yang dapat diambil untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi kesehatan mental anak.