Tanpa tulang ekor, duduk akan menjadi pengalaman yang sangat tidak nyaman. Tanpa UMKM, roda ekonomi memang bisa tetap berputar, tapi banyak celah yang akan terasa menganga.
Namun, jika kita ingin benar-benar jujur pada diri sendiri, mungkin UMKM adalah tulang kaki yang telah keseleo karena terlalu banyak beban yang mereka pikul.Â
Mereka harus berjalan jauh, berlari lebih cepat, dan melompati rintangan yang lebih tinggi dibanding bisnis besar. Tapi kaki yang keseleo tidak bisa menopang tubuh dengan baik. Jika terus dipaksakan, justru akan memperburuk kondisi tubuh secara keseluruhan.
Tulang Punggung Itu Harus Kuat, Bukan?
Menariknya, narasi tentang UMKM sebagai tulang punggung perekonomian ini lebih seperti cerita dongeng yang terlalu lama kita percayai tanpa pernah benar-benar meninjau ulang kebenarannya.Â
UMKM memang memiliki peran penting, tapi jika kita terus-menerus menyebut mereka sebagai tulang punggung, tanpa memberikan dukungan yang memadai, apakah kita tidak sedang berbohong pada diri sendiri?
Sudah waktunya kita memperbarui narasi ini. UMKM adalah bagian penting dari ekonomi, tapi mereka bukanlah tulang punggung yang bisa menopang semuanya. Kita butuh struktur ekonomi yang lebih adil, di mana UMKM didukung, tapi tidak dibebani secara tidak proporsional.
Barangkali yang kita butuhkan adalah tulang punggung yang lebih sehat---kombinasi antara bisnis besar, menengah, dan kecil, yang semuanya mendapatkan porsi dukungan yang seimbang.Â
Sehingga ketika krisis datang, kita tidak lagi tergagap mencari siapa yang akan menyelamatkan siapa, dan ekonomi kita bisa berjalan dengan lebih mantap, tanpa khawatir keseleo lagi.
Dan mungkin, saat itu, kita bisa duduk dengan nyaman---tanpa tulang ekor yang sakit, tanpa tulang kaki yang keseleo, dan dengan punggung yang tegak berdiri.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H