Mohon tunggu...
ade anita
ade anita Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, blogger

ibu rumah tangga yang suka menulis dan berkebun serta menonton drama silat china.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Filosofi di Balik Logo Halal Indonesia yang Baru

13 Maret 2022   21:40 Diperbarui: 13 Maret 2022   22:46 1431
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sepertinya, Logo Halal Indonesia yang baru dalam dua hari ini menjadi trending topik di media sosial Twitter. Penasaran sih sebenarnya mengapa logo halal Indonesia yang baru bentuknya seperti itu? Ada filosofi apa di balik logo Halal Indonesia yang baru tersebut? Yuk disimak.

Filosofi di balik logo halal Indonesia yang baru

Di grup whatsapp, beredar sebuah tulisan yang menjelaskan tentang filosofi di balik logo halal Indonesia tersebut. SAku copy paste ya tulisan yang beredar tersebut di sini. Karena filosofi dibalik logo halal Indonesia yang baru ada di dalam tulisan tersebut.

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama menetapkan label halal yang berlaku secara nasional. Penetapan label halal tersebut dituangkan dalam Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan Label Halal.

Surat Keputusan ditetapkan di Jakarta pada 10 Februari 2022 ditandatangani oleh Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham, dan berlaku efektif terhitung sejak 1 Maret 2022.

Penetapan label halal tersebut, menurut Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham, dilakukan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 37 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Penetapan ini juga bagian dari pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang JPH.

"Melaksanakan amanat peraturan perundang-undangan khususnya Pasal 37 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, maka BPJPH menetapkan label halal dalam bentuk logo sebagaimana yang secara resmi kita cantumkan dalam Keputusan Kepala BPJPH," kata Aqil Irham di Jakarta, Sabtu (12/3/2022).

Aqil Irham menjelaskan, Label Halal Indonesia secara filosofi mengadaptasi nilai-nilai ke-Indonesiaan. Bentuk dan corak yang digunakan merupakan artefak-artefak budaya yang memiliki ciri khas yang unik berkarakter kuat dan merepresentasikan Halal Indonesia.

"Bentuk Label Halal Indonesia terdiri atas dua objek, yaitu bentuk Gunungan dan motif Surjan atau Lurik Gunungan pada wayang kulit yang berbentuk limas, lancip ke atas. Ini melambangkan kehidupan manusia," kata Aqil Irham mengilustrasikan.

Bentuk gunungan itu tersusun sedemikian rupa berupa kaligrafi huruf arab yang terdiri atas huruf a, Lam Alif, dan Lam dalam satu rangkaian sehingga membentuk kata Halal, lanjutnya menerangkan.

Bentuk tersebut menggambarkan bahwa semakin tinggi ilmu dan semakin tua usia, maka manusia harus semakin mengerucut (golong gilig) manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa, dan Karya dalam kehidupan, atau semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Sedangkan motif Surjan yang juga disebut pakaian takwa mengandung makna-makna filosofi yang cukup dalam. Di antaranya bagian leher baju surjan memiliki kancing 3 pasang (6 biji kancing) yang kesemuanya itu menggambarkan rukun iman. Selain itu motif surjan/lurik yang sejajar satu sama lain juga mengandung makna sebagai pembeda/pemberi batas yang jelas.

"Hal itu sejalan dengan tujuan penyelenggaraan Jaminan Produk Halal di Indonesia untuk menghadirkan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal bagi masyarakat dalam mengonsumsi dan menggunakan produk," imbuh Aqil Irham.

Aqil Irham menambahkan bahwa Label Halal Indonesia menggunakan ungu sebagai warna utama label dan hijau toska sebagai warna sekundernya. "Ungu adalah warna utama Label Halal Indonesia. Warna ungu merepresentasikan makna keimanan, kesatuan lahir batin, dan daya imajinasi. Sedangkan warna sekundernya adalah Hijau Toska, yang mewakili makna kebijaksanaan, stabilitas, dan ketenangan," jelas Aqil Irham.

Kebetulan, karena aku bukan orang Jawa, aku masih bingung awalnya, bentuk gunungan itu apa?

Ternyata, gunungan yang dimaksud itu adalah gunungan yang biasa dipakai di pertunjukan wayang kulit (yang lagi-lagi, aku sendiri tidak pernah menontonnya karen aku berasal dari Sumatra Selatan dan besar dengan budaya orang tua dan keluarga besar Sumatra Selatan; meski aku tinggal di kota Jakarta, Pulau Jawa. Kami tidak pernah menonton pertunjukkan wayang).

Bentuk gunungan yang dimaksud itu seperti ini nih:

foto koleksi pribadi
foto koleksi pribadi

Tapi aku sendiri tidak mengerti tentang Surjan sh. Surjan pakaian takwa itu maksudnya apa?

Nah, aku pun berusaha cari tahu dan menemukan informasi seperti ini:

Surjan  adalah busana atas resmi adat Jawa untuk pria. Penggunaan surjan terbatas untuk wilayah Yogyakarta. Bahan dasar surjan terutama adalah lurik, meskipun dapat pula bahan bermotif kembang-kembang. (sumber informasi : wikipedia indonesia)

gunungan-wayang-400-600-px-700-400-px-622e11e37a36cd75a93df8b2.jpg
gunungan-wayang-400-600-px-700-400-px-622e11e37a36cd75a93df8b2.jpg
Sekilas, Logo halal Indonesia yang baru ini agak Javacentris sih ya. Aku sebagai orang yang bukan orang Jawa sedikit cemburu jadinya. 

Baiklah. Sebagai warga negara yang baik, aku hanya bisa menerima dengan ikhlas ketetapan dari pemerintah ini. Semoga saja semua yang dilakukan ini bisa membawa keberkahan dan kebaikan bagi negara Republik Indonesia di masa depan.

Aamiin. 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun