Waleh: "Aku tahu, Mak. Aku hanya menjalankan kewajibanku terhadap suamiku."
Sukab yang pada saat itu pergi bersama Hayati dengan menaiki perahu tidak kunjung kembali. Sementara itu Nenek terus saja mencarinya dengan menanyakan keberadaan mereka kepada para Nelayan  yang baru saja berlabuh. Beberapa Nelayan melihat Sukab dan Hayati sedang bercinta di atas perahu. Dengan perilaku menantunya tersebut Nenek semakin geram sehingga mengucapkan sumpah serapah:
Nenek: "Bahkan Tuhan kelak menghukum mereka! Tuhan tidak tidur! Tapi kamu malah diam saja"
Sumpah serapah itu dikabulkan tuhan sehingga membuat terjadi badai yang besar semalaman. Sukab dan Hayati yang saat itu masih ada di laut terombang-ambing karena ombak yang semakin ganas. Lalu mereka memutuskan untuk pulang setelah badai berhenti pada tengah malam dan mendarat. Akibat badai tersebut mereka sadar bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah kesalahan besar:
Sukab: "Kau ingat badai tadi, Hayati?"
Hayati: "Ya, aku ingat betul. (Melihat langit) tidak seharusnya kita berbuat seperti ini."
Sukab: "Baru kali ini aku merasakan hal yang sangat mengerikan. Selama ini aku kira Tuhan tidak nyata. Tapi, ternyata aku salah"
Hayati: "Bahkan aku tidak bisa menjadi istri yang baik bagi Dulah."
Sukab: "Apalagi aku yang sudah punya istri taat, tapi malah aku yang tidak tahu diri. (Menunduk)"
Hayati: "Kau sudah punya anak, bukan?"
Sukab: "Ya, anakku sangat baik. Meskipun dia kurang, tapi dia tidak pernah membentakku. Aneh kan? Padahal aku selalu memaki-maki Ibunya ketika ia mencegahku pergi bersamamu."