Teori ini menjelaskan bagaimana individu mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok tertentu dan bagaimana perasaan superioritas terhadap kelompok lain dapat memicu perilaku diskriminatif atau agresif. Program yang meningkatkan kesadaran akan keberagaman dan empati terhadap kelompok lain dapat mengurangi perilaku bullying.
3. Teori Kognitif (Aaron T. Beck)
Teori ini menekankan pentingnya pola pikir dan persepsi individu. Pelaku bullying mungkin memiliki pola pikir negatif atau distorsi kognitif yang memicu perilaku agresif. Terapi kognitif dapat membantu individu untuk mengubah pola pikir yang merugikan dan mengurangi perilaku bullying.
4. Teori Frustrasi-Agression (Dollard et al.)
Teori ini berargumen bahwa frustrasi dapat menyebabkan agresi. Individu yang mengalami frustrasi dalam hidup mereka mungkin mengekspresikan kemarahan melalui bullying. Mengidentifikasi dan menangani sumber frustrasi individu dapat mengurangi kecenderungan mereka untuk melakukan bullying.
5. Teori Interaksi Simbolik
Teori ini menyoroti bagaimana interaksi sosial membentuk perilaku individu. Bullying bisa dilihat sebagai hasil dari interaksi sosial yang negatif dan simbol-simbol yang dihasilkan dalam konteks sosial. Menciptakan lingkungan sosial yang positif dan mendukung dapat mengubah dinamika interaksi dan mengurangi bullying.
6. Teori Konflik
Teori ini berfokus pada ketegangan dan konflik antara individu atau kelompok yang berbeda. Bullying sering kali terkait dengan ketidaksetaraan kekuasaan dan perbedaan status sosial. Mengatasi ketidaksetaraan dan menciptakan saluran komunikasi yang baik antara individu dapat membantu mengurangi konflik.
DAFTAR PUSTAKA
Junindra, A. Dkk (2022). Peran Guru terhadap Perilaku Bullying di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Tambusai. Universitas Negeri Padang.