Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... Wiraswasta - “Besar, ternyata ada yang lebih besar, sangat besar, terbesar, super besar, mega besar dan maha besar.”

Nama : FM Al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Observe and be Observed

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Di Balik Senyum Jokowi Jilid 4, Jangan Menangis Kawan

13 April 2019   20:45 Diperbarui: 13 April 2019   21:15 930
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar : tribunnews.com. Diedit oleh penulis

Getaran apa yang kita rasakan saat menyaksikan penutupan kampanye akbar Jokowi - Makruf Amin di Stadion Utama Gelora Bung Karno tadi siang hingga sore 13/4/2019? Sebuah atraksi kampanye pamungkas sangat luar biasa.

Meskipun pasangan no 2 pernah melaksanakan kegiatan sama ditempat yang sama dan hampir sama membludaknya tetapi makna yang penulis rasakan dan lihat kali ini adalah Mengharukan dan Mempesona.

Mengharukan karena di dalam pidato kebangsaan dalam kampanye bertajuk "Putih Bersatu," Jokowi benar-benar memperlihatkan keunggulan moral dan etiketnya dengan merangkul hati dan jiwa penonton di seluruh tanah air dan peserta kampanye dengan kata, sikap, etiket yang sederhana dan murni. 

Keharuan terpancar dari ratusan ribu pasang mata di arena dan jutaan yang menonton melalui layar televisi. Bola mata berbinar seakan tak kuasa berlama-lama lagi memberikan kepercayaan pada Jokowi untuk mempimpin negeri ini untuk ke dua kali.

Mempesona karena sosok yang telah memberikan bukti sebagai eksekutif sederhana dari saat menjabat sebagai walikota Solo lalu ke  Gubernur DKI hingga menjadi Presiden tetaplah sosok sederhana meskipun telah menjelma menjadi negarawan besar dan dihormati oleh lawan dan kawan-kawan di dalam dan luar negeri.

Posisi Indonesia dalam G-20 menjadi urutan ke 29 adalah sebuah jawaban pengakuan internasional betapa ekonomi diakui masih lebih baik dibanding negara lain yang belum mencapai posisi tersebut.

Pengakuan internasional terhadap ekonom lemah lembut Sri Mulyani (Menkeu) oleh majalah The Banker sebagai Menteri Keuangan terbaik di dunia bukanlah diperoleh dengan isntan melainkan melalui sejumlah reputasi diraih sebelumnya. Misalnya reputasi sebagai Menteri terbaik Dunia versi  World Government Summit di Duba 2017.

Agka pengangguran yang kini mampu ditekan di bawah 1 digit oleh pemerintah Jokowi ditengah tekanan ekonomi mampu menciptakan peluang kerja bagi setiap angkatan kerja.

Diakui oleh Jokowi masih banyak hal-hal lain yang belum terlaksana sehingga belum dapat mensejahterakan rakyat semua karena prosesnya memang tidak bisa berjalan dengan instan, perlu didorong, dikawal bahkan harus turun ke lokasi agar programa tidak mangkrak, katanya disambut teriakan "Jokowi....!!" dalam lautan dominasi putih membahana.

Memang benar negara ini ibarat kapal yang berisi 169 juta manusia di dalamnya membutuhkan nahkoda yang berpengalaman. Bukan nahkoda mau coba-coba di saat negara ini ingin mencapai posisi negara urutan ke 4 terbaik Dunia (setelah China, India dan AS) dalam bidang Ekonomi pada 2030 nanti sebagaimana dilansir oleh PricewaterhouseCoopers, sebut sumber weforum.org.

Siapa yang akan mengantarkan mencapai pencapaian tersebut pada 2030 nanti? Pasti BUKAN Jokowi seorang, melainkan seluruh bangsa Indonesia, seluruh sistem dalam pemerintahan, seluruh pengusaha dan pebisnis, ekonom dan tentu saja dukungan iklim ekonomi dan keamanan yang baik. Dan tentu saja memerlukan seorang pemimpin yang berpengalaman.

Presiden selanjutnya (setelah 2024 nanti) akan menjalankan roda pemerintahan Indonesia sebagai  salah satu negara terkuat dalam bidang Ekonomi sekaligus kuat mengikis budaya korup serta mengikis sisa-sisa manusia menjadi ancaman (duri dalam daging) bagi kelangsungan hidup negara dan bangsa Indonesia.

Apakah pencapaian itu cuma ilusi? Tidak sama sekali. Teori ekonomi dengan sejumlah indikatornya serta faktor pendukung telah dikaji oleh pakar ekonomi dari lembaga ekonomi kelas wahid dunia sebagaimana disebutkan di atas. Mereka telah menggambarkan ekspektasi perekonomian negara telah maju dalam 2 dekade terakhir dan terbukti akurat, maka ekspektasi terhadap posisi negara kita pada 2030 bukanlah hisapan jempol belaka.

Melihat pada pencapaian yang telah diraih pemeritahan Jokowi dan luapan lautan manusia dalam tema "Putih Bersatu" pada kampanye pamungkas mendukung pasangan 01 jelas membuat Jokowi tersenyum-senyum, sumringah tapi tak berlebihan seperti saya (penulis) misalnya. Tampaknya ada makna yang tersirat dari senyuman Jokowi yang penulis istilahkan sebagai Senyuman Jilid 4.

Mengapa jilid 4? Pada artikel sebelumnya penulis telah menulis beberapa prediksi tentang Jokowi dalam tage "Senyuman Jokowi jilid 1 di Sini, Jildi2 di Sini, dan jilid 3 di Sini.

Apa yang tesurat dari kampanye akbar pamungkasnya sebagaimana terpancar dari senyuman -maaf- ndesso-nya alias polos dan murni adalah berupa pesan kepada kubu lawan bahwa :

  1. Bangsa dan negara ini memerlukan Presiden berpengalaman untuk mengantarkannya menuju gerbang 2030 mencapai puncak keemasan ekonomi Indonesia
  2. Indonesia tidak akan bubar meskipun di sana-sini dihuni oleh sejumlah oposisi ekstrem yang setiap saat menrongrong wibawa pemerintah bahkan memprediksi akan hancur lebur.
  3. Fitnah sistematis tidak akan membuat rakyat Indonesia menjadi bodoh. Hati nurani dan akal sehat akan melumpuhkan pengaruh fitnah, rakyat akan cerdas memilih pemimpin yang santun dan terbukti handal.
  4. Jangan menangis kawan pada 17 April 2019 sore. Negara dan bangsa ini masih membutuhkan seni dalam beretika  dan mampu berbuat besar dalam bersikap. Bukan omong besar, kekerasan, kasar dan fitnah "1001 malam: alias fitnah sistematis.

Jika tidak ada aral melintang dan atas izin Nya maka Tuhan yang Maha Kuasa akan mentakdirkan Jokowi kembali menjadi Presiden RI. Ia akan mengantarkan Indonesia tingal landas menuju era keemasan pada akhir jabatannya 2024 nanti. Presiden selanjutnya akan menerima tongkat estafet menuju pencapaian tersebut.

Kabar gembirakah ini bagi kita? Setidaknya senyum Jokowi memberi isyarat "jangan menangis, kawan.." heheheheee...

Salam persatuan dan kesatuan menuju Indonesia 2030

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun