Pada hari ini umat Hindu akan berkumpul dengan sanak saudara untuk saling bermaafan dan memaafkan bilamana ada kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Umat Hindu pada malam harinya melakukan persembahyangan selama sembilan hari kedepan untuk memuja dewata nawa sanga
Dua hari kemudian merupakan hari suci Pemaridan Guru dimana keluarga melakukan persembahyangan di merajan masing masing
5 hari setelah galungan diselenggarakan upacara bhuta yadnya dengan menghaturkan caru agar para bhuta tidak mengganggu keharmonisan alam beserta isinya Yang disebut Pemacekan Agung
Kuningan
Kuningan dilaksanakan 10 hari setelah hari raya Galungan di mana pada waktu itu para bhatara bhatari turun ke bumi sampai tengah hari yaitu pukul 12 siang, pada saat Kuningan umat menyampaikan rasa puji syukur atas anugerah dari beliau dilakukan dengan menghaturkan nasi kuning serta Kuningan memiliki makna ngungingang atau memberitahu pretisentana agar senantiasa berjalan di jalan kebenaran dan mengikuti jejak baik leluhurnya.Â
Selain itu meniurut tradisi di kecamatan Kubu, Karangasem pada hari raya Kuningan umat hindu yang memiliki sanak saudara yang telah meninggal namun belum diupacarai ngaben akan didatangi ke praja pati bagi yang mayatnya dikubur atau ke laut bila mayat atau sawa dibakar.Â
Umat hindu setempat meyakini bahwa roh leluhur juga ikut turun bersama dengan para dewa pada hari tersebut dan akan kembali ke tempatnya setelah lewat tengah hari
Pegat Wakan
35 hari setelah hari raya Galungan merupakan hari buda keliwon pahang di mana pada hari itu uncal balung berakhir serta umat Hindu mencabut penjor yang kemudian dibakar didepan rumah dan abunya ditabur di pekarangan sebagai permohonan kesejahteraan keluarga. Pada hari itu pula bertepatan dengan piodalan di pura Silayukti
Nama : I Komang Ardana Putra
NIM : 2112021093
Prodi : S1 Pendidikan Bahasa Ingris
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H