Rasa itu bukanlah sebuah penyesalan tentang apa yang mereka jalani saat ini, namun hanya sebuah perasaan yang sesekali muncul di tengah kebosanan rutinitas yang selalu sama.
Saya jadi teringat ada seorang tiktoker yang membuat sebuah video sinematik singkat. Dalam video tersebut, ia berkata sangat menyayangi anaknya dan kehidupannya saat ini tapi di sisi lain ia juga rindu dengan dirinya yang dulu.
Kondisi yang digambarkan di Mama The Idol tidak jauh beda dengan yang terjadi di sekitar kita.Â
Ada salah seorang kawan yang mengundurkan diri dari BUMN demi bisa memastikan anak-anaknya tumbuh dengan baik.Â
Seorang kawan lain harus mengubur mimpinya menjadi seorang perawat agar bisa merawat anak-anaknya sendiri.
Mereka pamit bukan untuk hidup enak, namun untuk memikul beban dan tanggung jawab yang lebih berat.Â
Maka dari itu, sudah selayaknya para ibu harus dihargai dan disayangi. Bukan malah dituduh tak berpenghasilan dan bahkan dianggap sebagai beban.
Realita di sekitar saya, banyak ibu rumah tangga yang kurang bangga dan kurang mengapresiasi dirinya sendiri. Mereka merasa menjadi beban keluarga yang hanya mengandalkan penghasilan dari suami karena stigma yang diberikan oleh masyarakat sekitar.
Entah mengapa di beberapa tempat di negeri ini materi masih saja dipandang sebagai tolak ukur eksistensi seseorang.
Belum kelar soal stigma IRT, datang lagi perdebatan mana yang paling salihah, wanita karir atau ibu rumah tangga.Â
Di akhir tahun ini sudah selayaknya hal semacam itu tidak lagi terdengar di telinga kaum perempuan.Â