Mohon tunggu...
Rusman
Rusman Mohon Tunggu... Guru - Libang Pepadi Kab. Tuban - Pemerhati budaya - Praktisi SambangPramitra
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama". Penulis juga aktif sebagai litbang Pepadi Kab. Tuban dan aktivis SambangPramitra.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Rusman: Wayang "Gatotkaca dalam Perspektif Pendidikan"

7 Juni 2018   11:19 Diperbarui: 26 Mei 2019   06:11 3131
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Optimis untuk kelak akan menjadi pemimpin yang gagah dan bijaksana. Pemimpin yang disegani oleh lawan dan dihormati oleh kawan.

Tetapi jawaban Gatotkaca ternyata bukan itu. Anak muda yang gagah ini hanya menjawab dengan lesu, seakan sangat prihatin tentang nasib ibunya.

"Oh Tuhan, mengapa jawaban itu yang Kau pilihkan untuk anakku

Mengapa Gatotkacaku yang sakti ini menjawab hanya ingin menemani aku?"

Mata Arimbi lantas berkaca-kaca. Ia sangat khawatir, jangan-jangan ini merupakan gambaran nyata dari masa depan anaknya yang suram meskipun bergelimang harta.    

"Jangan begitu anakku, ibu tidak mengapa menjadi wanita yang lemah tak berdaya asal kau tidak mengalaminya. Asal kau akan menjadi seorang raja besar yang menjadi harapan semua orang."

Raja yang pintar dan bijaksana yang diharapkan oleh semua rakyatnya, tidak membedakan ini teman itu lawan. 

Seorang pemimpin yang tidak sekedar pandai bermain sandiwara, membuat pencintraan dan menerima laporan-laporan saja. 

Melainkan ratu binatara yang sanggup hadir pada rakyat untuk menawarkan solusi tentang permasalahan mereka.

"Jangan hiraukan ibumu yang sudah ikhlas menerima kenyataan ini, ngger." 

Istri Bima ini lantas mendekati anaknya, memeluk dan menangis sesenggukan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun