Mohon tunggu...
Martha Weda
Martha Weda Mohon Tunggu... Freelancer - Mamanya si Ganteng

Nomine BEST In OPINION Kompasiana Awards 2022, 2023. Salah satu narasumber dalam "Kata Netizen" KompasTV, Juni 2021

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Worklife Balance, Take It or Leave It

1 Februari 2021   16:04 Diperbarui: 3 Februari 2021   16:20 1720
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (Sumber: Auzi Amazia via Kompas.com)

Lalu di hari Minggu, kami tetap harus keluar rumah untuk beribadah di gereja.

Tidak hanya itu, manajemen kantor juga sering menjadwalkan kegiatan di luar kantor, seperti outing dan training, baik di dalam maupun di luar kota, pada akhir pekan. Otomatis, hari untuk keluarga pun terpakai juga untuk bekerja.

Aturan lainnya, mengambil cuti tidak bisa semaunya. Harus ada alasan penting yang sangat mendesak, untuk pengajuan cuti bisa disetujui. Tanpa itu, jangan berharap banyak. Apalagi misalnya hendak mengambil cuti untuk pergi berlibur, mimpi saja cukup. Mengajukannya saja suami tidak akan berani.

Terbayang bagaimana lelahnya. Hampir tiada satu hari pun istirahat penuh di rumah.

Bukannya tidak ingin menerapkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi status sebagai karyawan, mau tidak mau mengikuti aturan dan ketentuan perusahaan.

Itu di satu sisi. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri, pengaturan jam dan hari kerja yang padat oleh manajemen, berbanding lurus dengan kompensasi yang diberikan perusahaan kepada karyawan. Perusahaan memberi perhatian lebih pafa kesejahteraan karyawan, juga keluarganya.

Setidaknya, bila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain dengan bidang usaha sejenis, kompensasi yang diberikan masih lebih baik.

Itu pula sebabnya, sekalipun terkadang saya kesal dengan kondisi ini, saya melatih diri untuk tidak mengeluh. Sebaliknya, saya justru selalu menguatkan suami, menghiburnya dengan kalimat-kalimat positif

Terutama bila di hari-hari tertentu, sepulang kerja, saya melihat kelelahan terpancar jelas di wajahnya.

Saya pun menahan diri untuk tidak menanyakan perihal pekerjaan kantor, sekalipun saya seringkali penasaran dengan apa yang barusan dihadapinya di kantor, bila ia pulang dengan wajah kusut. Saya tidak ingin menambah keruwetannya dengan pertanyaan-pertanyaan saya yang bisa saja mengganggunya.

Biarkan dia menyelesaikan masalahnya dalam diam. Saya tahu, dalam diam, pikirannya terus bekerja. Kalaupun ada sesuatu yang sangat penting dan berkaitan dengan kehidupan keluarga, biasanya dia pasti segera menyampaikannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun