Mohon tunggu...
anwar hadja
anwar hadja Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Pendidik di Perguruan Tamansiswa Bandung National Certificated Education Teacher Ketua Forum Pamong Penegak Tertib Damai Tamansiswa Bandung Chief of Insitute For Social,Education and Economic Reform Bandung

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ideologi Wayang dalam Pilkada Banyumas 2018

3 Maret 2018   07:11 Diperbarui: 3 Maret 2018   08:35 423
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Panggung politik pilkada 2018 Banyumas  yang hanya memunculkan dua paslon, yakni Marjoko-Ifan dan Husein-Dewo, dilukiskan oleh wartawan Muhammad Ridlo, sebagai Padang Kurusetra Dua Raksasa di Pilkada Banyumas 2018 (Liputan6.com, 09/02/2018). Yang dimaksud dengan dua raksasa tentu bukan dalam pengertian fisik. Tetapi simbolisme dari dua kekuatan calon bupati dengan pendukung fanatiknya masing-masing yang nyaris seimbang. Mirip kekuatan Pandawa dan Kurawa yang terlibat dalam perang besar di Padang Kurusetra.

Dalam kisah wayang, perang antara Pandawa dan Kurawa terjadi karena  memperebutkan tahta Hastina. Pada akhir peperangan, terjadi bigmatch. Duryudhana harus perang tanding dengan Bima. Ternyata keduanya sama-sama sakti dan sama-sama terampil menggunakan senjata andalannya. Keduanya saling gebug dengan senjata gada. Bima nyaris putu asa, karena setiap kali Duryudana digebuk dengan gada sakti Bima, Duryudana selalu bisa bangkit lagi dan terus melawan. Untunglah suporter Bima, yakni punakawan Pandawa, memberi tahu Bima. "Raden," kata Petruk membisiki Bima, "Pukul saja di pangkal paha kanan. Sebab, di situlah letak jalan kematian Destarata Putra!"

Mendengar bisikan Petruk, Bima kembali bangkit semangatnya. Sekali pukul, gada Rujakpolo Bima berarang di bawah pangkal paha kanan lawan, sehinggan membuat Duryudana pincang dan hilang kesaktiannya. Merasa ajalnya sudah dekat, Duryudana masih mencoba menyelamatkan diri dengan berusaha lari. Bima terus mengejarnya. 

Duryudana terus lari. Tetapi dasar sial, Duryudana lari ke ujung jalan yang buntu karena terhalang bukit, sehingga tak bisa lagi menghindari serangan Bima. Akhirnya tanpa ampun Bima berhasil meremukkan pangkal paha kanan Duryudana yang merupakan titik jalan kematiannya. Duryudana tewas seketika. 

Pandawa bersorak kegirangan, ditingkahi hujan tangis Kurawa. Perang Bharatayuda  berakhir. Pandawa memperoleh kemenangan. Tahta Hastina pun berhasil dikuasai Pandawa. Yudistira, kakak Bima dinobatkan jari Raja Hastinapura, kerajaan warisan sah dari ayahnya, Pandu Dewanata. Jaman keemasan pun datang, rakyat hidup dalam keadaan sejahtera, adil, tertib, rapih, indah, dan aman.

Baik Marjoko dan Husein, sama-sama penggemar wayang. Untuk memperingati hari jadi Kabupaten Banyumas, Husen tidak lupa nanggap wayang untuk menghibur dan menyenangkan rakyatnya. Tetapi Marjoko malah bukan hanya penggemar wayang. Ternyata Marjoko juga piawi memainkan boneka wayang kulit alias mendalang. 

Sekalipun tidak seterampil Dalang Entus Susmono yang kini menjabat Bupati Kabupaten Tegal, pengetahuan Marjoko tentang wayang dan seni pentas wayang agaknya lebih unggul dari Husein. "Sosok Marjoko yang amat njawani, dinilai memiliki nilai jual lebih untuk masyarakat Banyumas," tulis jurnalis Liputan6.com, Mohamad Ridlo.

Tetapi Husein juga punya nilai lebih. Dialah satu-satunya Bupati Banyumas setelah wilayah Banyumas lepas dari Keraton Surakarta (1831 M), yang mendapat anugrah gelar kebangsawanan atau ksatria dari Kasunanan Surakarta dengan gelar, Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Purbowinoto. Jabatan setingkat adipati atau bupati itu, dalam tradisi kekuasaan raja Jawa, akan berlaku seumur hidup. Dalam konteks Pilkada 2018, bisa dimaknai posisi Husein sebagai Bupati Banyumas, tak tergoyahkan, karena telah mendapat restu Sang Raja, sampai UU menghentikannya, yaitu hanya dua periode saja.

wayang-sunda-5a98f71bdd0fa86bf63bf532.jpg
wayang-sunda-5a98f71bdd0fa86bf63bf532.jpg
Sebagaimana umumnya orang Jawa dan orang Sunda, orang Banyumas rata-rata adalah penggemar kisah wayang yang bersumber dari kitab Mahabharata dan Ramayana. Jika di Bandung banyak nama jalan yang diambil dari nama tokoh-tokoh wayang, seperti jalan Pandawa, Astina, Arjuna, Semar, Kresna, Baladewa, dan jalan Wayang, di eks Karesidenan Banyumas banyak nama desa, sungai, dan gunung yang diambil dari kisah wayang. Misalnya, Gunung Slamet, gunung terbesar di Pulau Jawa. Pernah diberi nama Gunung Semar. Sebelumnya, diberi nama Gunung Agung, dan Gunung Gora. Ketika Lembah Serayu jatuh ke tangan Kerajaan Mataram, nama Gunung Semar, diganti jadi Gunung Slamet, sampai sekarang.

Di Banjarnegara, ada desa Madukara. Madukara adalah tempat tinggal Arjuna. Ada lagi desa Buntu, desa yang menurut legenda rakyat Banyumas, adalah tempat Bima berhasil menewaskan Duryudana, sebagaimana dalam kisah perang Bharatayuda di atas. Juga ada dua situs yang diberi nama padepokan dalam kisah wayang, yakni situs Kendalisada dan situs Sokalima. Situs Kendalisada ada di Kecamatan Kalibagor, dulu merupakan Padepokan Kendlisada yang bercorak Hindu Syiwa.  Kini menjadi Bumi Perkemahan Kendalisada. Dalam kisah wayang Kendalisada adalah tempat tinggal Resi Hanuman, yang merupakan salah satu guru Bima.

Situs Sokalima, dulu merupakan Padepokan Sokalima dengan corah Hindu Syiwa. Dalam kisah wayang Padepokan Sokalima, merupakan tempat tinggal Dahyang Durna, guru Bima, Pandawa dan Kurawa. Ketika wilayah ini jatuh ke dalam Kerajaan Pajang, Padepokan Sokalima berubah menjadi Padepokan Kalibening yang bercorak Islami. Sekarang masuk Kecamatan Banyumas, Desa Dawuhan, dan menjadi pusat wisata religi terbesar di daerah Banyumas, karena di Kalibening  terdapat benda-benda pusaka yang dianggap memiliki nilai sakral dan daya gaib. Ada pula sumur pasucen dan makam tokoh keramat atau orang suci.

Nama Sungai Serayu, sungai terpanjang di pulau Jawa yang mengalir ke Samudra Hindia, juga diambil dari nama sungai dalam kitab Mahabharata. Tidak mengherankan jika Kota Purwokerto, Ibu Kota Kabupaten Banyumas, memproklamirkan dirinya sebagai Kota SATRIA, yakni akronim dari Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Tentu yang dimaksud dengan Satria di sini adalah Satria Pandawa, bukan Satria Kurawa. Dalam persepsi orang Banyumas, Satria Kurawa adalah satria palsu, sedang Satria Pandawa adalah Satria Sejati.

Bagi orang Jawa, dan juga  orang Banyumas, tokoh-tokoh Pandawa dalam kisah  wayang bukan hanya merupakan sumber nilai budi luhur, watak, dan spritualtas. Tetapi juga sumber cita-cita, ideologi, dan semangat kepahlawanan untuk mewujudkan cita-cita kemasyarakan orang Jawa, yakni masyarakat kekeuargaan, gotong royong, dan guyub rukun. Dalam Perang Jawa (1825-1830 ), Pangeran Diponegoro  mengidentifikaskan dirinya sebagai Bima, sedang musuhnya, Jendral De Kock, didentifikasikan sebagai Duryudana.

Dr.Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, juga menjadikan tokoh wayang sebagai sumber spiritualitas dan semangat dalam perjuangannya menentang  Belanda. Dr.Cipto mengidentifikasi dirinya sebagai Bima, Dauwes Dekker, sebagai Baladewa, dan Ki Hadjar Dewantara, sebagai Kresna, dan kadang-kadang Yudistira. Bung Karno ketika muda, juga mengindentifikasi dirinya sebagai tokoh Bima. Bung Karno sudah menulis artikel politik di koran Oetoesan Hindia, milik Cokro Aminoto ketika masih duduk di bangku HBS. Dia menggunakan nama samaran Bima dalam tulsan-tulisannya, agar tidak diketahui guru-gurunya di HBS Surabaya.

Tentu saja jika tokoh wayang akan dimafaatkan untuk meraih simpati publik dalam pilkada 2018, baik Husein maupun Marjoko, tidak akan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh Kurawa, sebab Kurawa dalam medan Kurusetra adalah pihak yang kalah, keduanya harus memilih tokoh wayang Pandawa sebagai simbol dari watak, karakter, dan totalitas kepribadiannya. Misalnya saja, Paslon Husein-Dewo, bisa memilih tokoh Harjuna dan adiknya, Sahadewa. 

Publik Banyumas penggemar wayang, pasti langsung bisa menangkap makna simboliknya jika Husein-Dewo mengidentifikasikan dirinya dengan Harjuno-Sahadewa, berarti lawanya dalam pilkalkada akan dipersepsikan sebagai Adipati Karna-Jayajadra. Sebaliknya dengan Marjoko- ifan, bisa saja mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh wayang Bima dan Harjuna, dengan sendirinya publik penggemar wayang langsung tahu, bahwa lawanya dalam pilkada telah dipersipkan sebagai tokoh Duryudana-Tokoh Kurawa lainnya.

Akhirnya siapakah yang kelak akan berhasil mendulang suara  masyarakat Banyumas penggemar wayang dalam Pilkada 2018? Pastilah pasangan calon yang dipersepsiikan publik sebagai pasangan callon yang diperspsikan akan lebih mampu mewujudkan masyarakat ideal utopia Banyumas di masa depan sebagaima sering diungkapkan Sang Dalang. Yakni negara atau kabupaten ingkang panjang pocapane punjung kuncarane, gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwa tinandur. 

Bebek, ayam, sato kewan, raja kaya, pada mulih menyang kandange dewe-dewe, tan ana sangsayaning margi.Artinya kurang lebih negara yang  termashur dan dikenal dimana-mana, karena ada keadilan, kemakmuran, keamanan, kesejahteraan, dan terpenuhinya kebutuhan sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, sehingga rakyat jelata selalu giat dan trampil dalam bekerja dan berkarya, karena terpenuhi kebutuhan pokok manusia paling mendasar. Bisa Marjoko-Ifan. Bisa juga Husein-Dewo [Kalibagor, 03/02/2018).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun