Mohon tunggu...
Zia Muthi Amrullah
Zia Muthi Amrullah Mohon Tunggu... -

Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

A Girl Who Loves A Ghost ; Altruisme Cinta

6 Januari 2015   09:05 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:43 142
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pandangan mata para pembaca akan terus terbelalak dan terkesiap saat menikmati lembar demi lembar novel ini. Kita hampir selalu dihadapkan pada  kejutan-kejutan di setiap alur ceritanya. Babak-babak yang menegangkan sehingga membuat ritme detak jantung semakin kacau balau, romansa yang menggairahkan, bab-bab air mata kesedihan, kekonyolan, kecerobohan, dan bahkan kebijaksanaan tersusun menjadi satu kesatuan yang membuat novel ini penuh warna dan berisi.

Detak jantung kita akan dibuat melonjak-lonjak saat kedatangan Leeta ke rumah maha mewah dengan penjagaan ketat milik keluarga Yuto di Bandung. Begitu juga kala ia menyatroni ruang kantor Yuto untuk menyelamatkan amplop coklat berisi dokumen penting. Yang paling membuat kaki berjingkrak-jingkrak tegang adalah adegan di rimbunan hutan detik-detik ketika David dengan selongsongan pistol berpeluru panas mengejar Leeta yang berlari tunggang langgang menyelamatkan diri.

Dengan wajah murung, kelopak mata kita akan tampak memerah dan mengembun ketika ikut merasakan kepiluan yang dialami Leeta saat melepas Yuto dalam kedamaian. Leeta memilih untuk berpisah dengan Yuto ketika kebersamaan mereka akan memperburuk keadaan keduanya.

Dari sinilah dapat kita kenali bahwa cinta yang dimiliki Leeta bukanlah cinta yang posesif dan egoistis, namun cinta bermazhab altruistis. Cinta altruistis adalah cinta yang mementingkan kebahagiaan orang yang kita cintai. Sehingga ungkapan bahwa cinta tak harus saling memiliki adalah bagian dari ajarannya. Sedangkan cinta egoistis dan posesif merupakan cinta yang menuntut orang yang kita cintai harus menjadi milik kita, tak peduli ia akan bahagia atau malah menderita.

Bisa jadi kita juga akan ikut meratapi gegap derita yang dialami Leeta. Selang tak berapa lama setelah upacara perpisahan, di tengah kesibukannya di rumah tiba-tiba angin berhembus kuat, tersibak aroma parfum Yuto. Leeta merasakan kehadiran kekasih hati yang tidak akan pernah bisa ia temui lagi.

Ibarat bermain layang-layang, ketika sedang akan merangkak naik ke angkasa, tiba-tiba ia putus benangnya dan layang-layang pun hilang tak berbekas. Cara itulah yang dipilih penulis untuk memoles novel ini dengan romantisme. Ia sukses membuat pembacanya berhenti bernafas sejenak dengan suhu tubuh yang berkehangatan. Namun percumbuan selalu berakhir dengan antiklimaks. Itulah inisiatif terbaik penulis untuk menghindari kesan vulgar dan murahan pada novelnya. Namun tetap mempertahankan warna peraduan yang memerahmudakan jiwa pembacanya.

Dialog dan tingkah yang dipenuhi humor-humor cerdas lebih banyak bertengger di novel ini. Sehingga terasa renyah dan menghibur.  Hal ini didukung oleh karakter Yuto yang angkuh dan perfeksionis namun baik hati dan Leeta yang ringan tangan, namun kritis, dan cerewet. Kita juga akan dibuat terpingkal-pingkal saat membayangkan mimik wajah para dosen yang raganya disusupi arwah Yuto sekadar untuk meliburkan perkuliahan.

Alasan lain yang membuat novel ini terasa menyenangkan, Leeta yang dominan sebagai penutur menyampaikan jalannya cerita dengan piawai. Selain menunjukkan dialognya dengan orang lain, ia juga menjlentrehkan percakapannya dengan diri sendiri. Keluhan, caci-maki, dan pujian yang terucap dalam batinnya amat polos, menggelikan, dan mencuat begitu saja.

Satu hal yang mengganggu terdapat dalam novel ini. Terlalu banyak pemakaian kata 'sialan' dan brengsek'. Sehingga agak terasa monoton dan klise. Hal ini seolah menunjukkan kurangnya kreativitas penulis dalam menciptakan ungkapan-ungkapan baru dan unik.  Sehingga tidak mengulang diksi yang di halaman-halaman sebelumnya sudah banyak dipakai.

Di tengah menjamurnya novel-novel relijius, tidak menyurutkan niat penulis untuk menyajikan novel dengan wajah lain, baru, dan segar. Ia memadukan kultur Amerika sebagai representasi dari budaya Barat, kultur Cina dan Jepang sebagai representasi dari budaya Timur, serta kultur Indonesia sebagai budaya yang berdiri sendiri dengan segala kejamakan adat dan budayanya.  Tradisi gereja yang menyelimuti suasana berkabung atas kematian Yuto juga ikut memperkaya wacana multikulturalisme dan agama pada dunia kesusastraan Indonesia.

Di novel bercover biru setebal 549 halaman ini kita mencerap perspektif roh yang ramah dan manusiawi. Jauh dari kesan horror, menyeramkan, dan tentunya tidak menyisakan benih-benih gangguan jiwa yang bernama paranoid. Kita diingatkan akan adanya wujud spiritual, di samping wujud material. Alih-alih paradigma berpikir kita kian terkungkung pada persoalan materi yang  nisbi dan fana, kesadaran kita justru tersingkap untuk lebih memahami esensi kehidupan. Bahwa akan selalu ada perpisahan sesudah perjumpaan, kematian setelah kelahiran, serta pengorbanan dan keikhlasan ketika mencinta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun