Baru-baru ini, warga Jogja digemparkan (lagi) dengan berita tutupnya TPST Piyungan. Meski awal tahun ini telah digalakkan pemilahan sampah, tutupnya TPST Piyungan kali ini tetap saja terasa ngeri-ngeri sedap. Karena tutupnya bukan cuma sehari dua hari, tapi 45 hari! Akan jadi apa Jogja nanti?!
Sebenarnya, tutupnya TPST Piyungan ini bisa menjadi sebuah berkah apabila dilihat dengan positif. Pemerintah memiliki target sampah terkelola dengan baik dan benar sebesar 100% pada tahun 2025 yang kemudian dicanangkan dengan tagline Indonesia Bersih Sampah.
Target ini diatur dalam Perpres Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jaktranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga dan terbagi menjadi penanganan sampah sebesar 70% serta pengurangan sampah sebesar 30%.
Capaian Kinerja Pengelolaan Sampah KLHK menunjukkan, saat ini pengurangan sampah masih di angka 16,47% sedangkan penanganan sampah sebesar 47,71%.
Tutupnya TPST Piyungan, mestinya dapat mendorong warga untuk mengurangi sampah sehingga paling tidak angka capaian pengurangan sampah meningkat.
Dari sumber data yang sama, diketahui sumber terbesar sampah berasal dari rumah tangga (38%) disusul dari pasar (22, 8%) baru kemudian pusat perniagaan (20,3%).
Rupanya rumah tangga menyumbang lebih banyak sampah dibanding sumber sampah lain. Berangkat dari fakta ini, mestinya, dengan menggerakkan ibu rumah tangga, pengurangan sampah yang dikirim ke TPA bisa jauh berkurang.Â
Ya, betul. The power of emak-emak juga harus dimanfaatkan dalam pengurangan sampah. Hal ini rupanya telah disadari oleh beberapa gerakan pengurangan sampah seperti Belajar Zero Waste (BZW) dan Mama4Planet.Â
Berbasis online, BZW yang berdiri pada 2018 telah memiliki anggota sebanyak 582 orang yang 73,4% nya adalah ibu rumah tangga. Kesemua anggota BZW menjalani kelas tentang cegah, pilah dan olah sampah selama 12 pekan. Dalamnya materi, adanya penugasan, serta support dari sesama anggota komunitas membuat anggota BZW mampu mengurangi 1.020,75 ton sampah sejak tahun 2018.
Angka ini, apabila dirata-rata, didapatkan kalau setiap anggota BZW berhasil mengurangi sampah yang dibawa ke TPA hingga 90,49%. Sebuah angka yang besar bukan?
Sebagai anggota BZW, saya pun sering nggumun pada anggota yang lain. Mereka ini jarang sekali menyetor sampah ke TPA. Banyak di antara mereka yang menyetor sampah ke TPA setiap tiga minggu sekali, bahkan banyak juga yang membuangnya dua bulan sekali. Itupun ukurannya hanya satu atau dua kresek sedang, hampir mirip dengan buangan sampah rumah tangga pada umumnya. Hanya saja, apabila rumah tangga lain membuang sampah sebanyak itu setiap hari, rata-rata anggota BZW membuangnya setahun paling banyak cuma 16 kali!
Tidak hanya fokus mengelola sampah rumah tangga, anggota BZW juga banyak yang kemudian mendirikan bank sampah, bulkstore, usaha minim sampah, hingga menjadi influencer gaya hidup minim sampah. Selain mencegah, memilah dan mengolah sampah di rumah tangganya sendiri, anggota BZW juga didorong untuk membuat perubahan di masyarakat.Â
Gerakan ibu rumah tangga dalam mengurangi sampah juga diinisiasi oleh Mama4Planet. Berbeda dengan BZW yang berbasis online, Mama4Planet memfokuskan diri untuk mengedukasi ibu rumah tangga di 3 padukuhan di daerah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mama4Planet melatih 21 kader yang kemudian mengedukasi ibu rumah tangga di daerah tersebut untuk mengolah sampah. Mereka juga membuat challenge bagi para ibu untuk mengurangi sampah makanan. Hasilnya, para ibu ini berhasil mengurangi sampah rata-rata sebesar 60% di rumahnya. Lumayan banget kan?
BZW dan Mama4Planet adalah bukti bahwa the power of emak-emak sangat bisa dimanfaatkan untuk mengurangi dan mengolah sampah. Apabila para ibu teredukasi, sampah yang berasal dari rumah tangga dapat berkurang dengan signifikan.
The power of emak-emak dalam menangani isu lingkungan pernah diteliti Laila Kholid dari Universitas Diponegoro pada tahun 2018-2020. Gerakan aktivis lingkungan oleh perempuan terbukti efektif salah satunya karena perempuan memiliki jejaring sosial yang kuat. Sebuah gerakan dapat dengan mudah tumbuh dari organisasi perempuan seperti PKK, Posyandu, hingga kelompok pengajian atau kegiatan religius. Perempuan seringkali tidak diam saja dalam geraknya, tapi juga mendorong sesama perempuan untuk juga bergerak bersama.
Efektivitas gerakan perempuan juga disebabkan karena motivasi para perempuan ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadinya, tapi juga untuk keluarganya. Terbukti, para Ibu selalu saja memikirkan suami dan anaknya terlebih dahulu sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Dalam kasus persampahan pun, motivasi untuk memberikan warisan kepada anak-anak mereka berupa lingkungan yang masih aman untuk ditinggali pun menjadikan mereka bersemangat dan konsisten dalam mencegah, memilah dan mengolah sampah.
Partner Pemerintah
Pemerintah memang masih punya tugas untuk menangani timbulan sampah yang telah menggunung di TPA dan melakukan penanganan sampah. Telebih, saat ini banyak TPA telah overload. Mustahil gunung sampah yang sekarang terbentuk di TPA berbagai daerah termasuk TPST Piyungan bisa musnah tanpa bantuan teknologi.
Penggunaan teknologi pun sebaiknya tidak hanya satu jenis yang diandalkan. Perlu banyak inovasi yang diadopsi serta menggaet banyak investor besar supaya lebih efektif dalam penganan sampah.
Tapi pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Amat penting untuk terus mengedukasi masyarakat terutama ibu rumah tangga untuk mencegah, memilah, dan mengolah sampah dari rumah.
BZW dan Mama4Planet hanya segelintir bukti yang menunjukkan kalau ibu rumah tangga menduduki posisi yang vital untuk menjalankan peran tersebut. Tentu masih banyak gerakan perempuan lain terkait sampah yang terendus media.Â
Target Indonesia Bebas Sampah tinggal 2 tahun lagi dari hari ini. Tapi dengan kerjasama pemerintah, investor, lembaga swadaya masyarakat, dan the power of emak-emak, bukan tidak mungkin target tersebut terlampaui.Â
***
Referensi :
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2023, Sistem Informasi Pelaporan Sampah Nasional, diakses melalui sipsi.klhk.go.id pada 7 Juli 2023 pukul 19.00
Perpres Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jaktranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Â
Tim RnD BZW, 2022, Analisis Pengurangan Sampah Alumni Komunitas Belajar Zero Waste Hingga Desember 2022, Komunitas BZW
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI