Dalam berbagai situasi, Rasulullah selalu menunjukkan adab yang tinggi. Hal ini seharusnya menjadi contoh bagi kaum muslimin dan muslimat agar senantiasa menjadikan khuluqin 'adzim sebagai pondasi utama dalam membentuk karakter diri.
Interaksi Antara Akal dan Adab
Keterkaitan antara akal dan adab diilustrasikan dengan indah dalam kitab "Al-Adab wal Muru'ah" melalui beberapa analogi. Disebutkan:
 " ,"
"Ketahuilah bahwa akal adalah pemimpin, dan adab adalah menteri."
Tanpa adab, akal bisa tersesat, karena tidak memiliki bimbingan moral yang diperlukan untuk membuat keputusan yang baik. Sebaliknya, tanpa akal, adab menjadi tidak berguna karena tidak ada pemikiran yang mendalam untuk menerapkan etika tersebut secara praktis.
Perumpamaan yang digunakan dalam kitab tersebut,
 " ,"
menjelaskan bahwa akal dan adab adalah seperti pedang dan pengasahnya. Adab mengasah akal, membuatnya lebih tajam dan efektif. Seorang Muslim yang terasah akalnya oleh adab akan mampu tidak hanya menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan tetapi juga dengan keindahan moral yang konsisten.
Peran Akal dan Adab dalam Kehidupan yang Dipenuhi Teknologi
Dalam era digital dan teknologi yang bergerak dengan sangat cepat, peran akal dan adab menjadi semakin krusial. Teknologi telah merubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan berinteraksi. Akan tetapi, percepatan ini tidak diimbangi dengan pertimbangan etis yang mendalam. Akal dan adab, merupakan dua elemen penting dalam kehidupan manusia, menawarkan panduan bagaimana kita harus bertindak dan berpikir dalam menghadapi kemajuan ini.