Bagaimana rasanya hidup bergelimang harta?
Bagaimana rasanya berjalan dengan kaki halus tanpa retak - retak sepanjang sisi karena terlalu letih berjalan mencari asa?
Bagaimana rasanya hidup dengan tangan lincah tanpa perlu merasa kebas akibat terlalu sering menulis dan memikul kerja?
Di malam sunyi, tak terdengar alunan melodi dari telepon ringkih ibu. Ibu sudah tidur, pikir Risya begitu. Kini selimut tebal makin dikencangkan dalam dekapan, dingin malam tak menyurutkan kerja otak Risya untuk terus berpikir, meratapi diri. Lagi - lagi gadis itu kembali menyoroti hidupnya yang penuh tanda tanya. Sudah 20 tahun dik, apa yang kamu lakukan selama ini?
Pagi tadi, barang belanjaan ibu masih belum sepenuhnya lengkap, tak memasukkan mentega. Cukup minyak goreng saja, ujarnya. Beginikah memang nasib manusia - manusia di akhir bulan? Serba hemat, tabungan makin menipis, sebentar lagi juga membayar SPP adik dan biaya listrik. Aduh lah, susah sekali untuk hidup damai.Â
Sudah 20 tahun, gadis kecil yang dulunya menangis di depan pasar besar karena meminta boneka barbie kini tak lagi bisa hidup dengan tenang. Bagaimana hidupnya kelak? Bagaimana lembaran - lembaran kertas bernama uang itu akan bisa ia dapatkan dimasa depan? Bagaimana jika dirinya gagal?Â
Tidak, tidak.Â
Risya menggeleng perlahan dengan air mata yang kian menetes pelan. Duh, betapa cengengnya dia.Â
Tapi bagaimana lagi, dik?Â
Selamat datang di dunia yang sebenarnya. Selamat menikmati malam - malam yang mulai sekarang tidak akan damai seperti biasanya.Â
Kencangkan sabuk pengamanmu, terus berjalan, ambil tujuan. Bukannya hati dan tekad melangkah, disitu selalu ada jalan, ya?
Benar, Risya.Â
Batinnya kini beradu, antara terus maju dan berpasrah saja. Tapi bagaimana lagi, tak dapat dihindari. Gadis kecil itu mau tak mau harus menghadap jalannya, kan?