Di tataran pusat, revisi cuti bersama dengan menghapus tanggal 22 Mei 2020 sebagai bagian dari cuti bersama lebaran, oleh sebagian teman-temanku dianggap prank pemerintah. Termasuk perubahan "larangan mudik", menjadi "boleh mudik dengan syarat..."
Fenomena ini, menjadi pembicaraan hangat. Termasuk obrolan renyah di beberapa WAG yang kuikuti.
"Apa memang musim prank, Bang?"
"Bukan. Artinya Negara dalam kondisi darurat! Keputusan berubah sesuai kondisi terkini!"
"Jadi? Kita mau nurut yang mana?"
Aih, dalam konsep agama Islam yang kupahami, jika ada keraguan, segera tinggalkan! Namun dalam konsep manajemen, jika hadir keraguan, pemimpin mesti ambil keputusan.
"Kenapa masih banyak yang..."
"Dalam konsep keilmuan, ikuti yang benar! Kalau dalam rapat, ikuti suara terbanyak!"
"Tapi..."
"Udah. Ikuti logika dan kata hatimu aja!"
Tuh! Aku juga jadi susah menjelaskan. Namun, memang susah membentuk kesadaran bersama, kan?