Jadi berdakwah ditempat seperti itu harus diisi sedikit-sedikit. Misalkan ada diantara pemabuk atau preman duduk bersamanya seorang ulama, ulama itu hanya diam saja sambil memperhatikan para pemabuk. Lama-lama juga bubar kegiatan mabuk-mabukan, Itu namanya pendekatan kultural.
Tut Wuri Handayani, Tut Wuri Haniseni diikuti pelan-pelan dan dirubah pelan-pelan. Jangan dimarahi jangan dibilang kafir nanti mereka tidak jadi dekat dengan Islam.
Orang Jawa suka dengan kesaktian- kesaktian. Sunan Kalijaga masuk lewat jalur kesaktiannya. Orang Jawa suka dengan wayang, Sunan Kalijaga masuk lewat wayang. Itulah yang dikatakan Tut Wuri Handayani Tut Wuri Haniseni, masyarakat menjadi senang untuk menerima dakwah nya sunan Kalijaga.
Orang Jawa menyukai kesaktiannya, Sunan Kalijaga juga bisa lebih sakti dari mereka saat itu. Pada prinsipnya anti konfrontasi, seperti mengambil ikan airnya tidak keruh, jika airnya keruh semua ikan bisa mati.
Apabila kamu berdakwah dengan kekerasan lalu terjadi kerusuhan, tidak hanya yang rusuh menjadi korban tapi kamu yang berdakwah juga menjadi korban. Maka tangkaplah ikan hasilnya ada dan airnya tidak menjadi keruh.
Akhirnya Sunan Kalijaga diposisikan sebagai gurunya orang Jawa.
Semoga bermanfaat
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H