Mohon tunggu...
Zaki Mubarak
Zaki Mubarak Mohon Tunggu... Dosen -

Saya adalah Pemerhati Pendidikan tinggal di Tasikmalaya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Yakin, Anda Ingin Berhaji?

25 Agustus 2017   05:10 Diperbarui: 25 Agustus 2017   06:05 2028
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

BERHAJI adalah impian semua kaum muslimin. Bila dalam hatinya ada sebercik iman, saya yakin, berhaji adalah keinginan terbesar dalam menyempurnakan akidahnya. Tidak sedikit orang dengan segala cara untuk bisa melakukan ibadah haji ke tanah suci, Mekkah al Mukarromah. Ada yang menjual tanah warisan, ada yang menabung tahunan, ada yang menjual properti, ada juga yang ujug-ujug Allah mudahkan rezekinya untuk pergi ke tanah suci. Namun, tidak sedikit juga ada mereka yang sudah mampu dari sudut materi, namun tidak mau, tidak mampu, atau belum ada niat untuk menunaikan ibadah haji. Karena, ibadah haji bukan sekedar ibadah yang mahal.

Tulisan ini ditujukan untuk sekedar bercerita tentang sebuah pengalaman dan refleksi atas ibadah haji yang pernah saya lakukan, di samping suasana haji sangat kental di bulan ini. Ada banyak hal yang bisa dibagikan dalam hal peribadahan rukun kelima ini, namun saya akan batasi dengan dua hal sederhana saja; (1) bagaimana start up (memulai) berniat ibadah haji, (2) bagaimana cara berangkatnya.

Start Up Ibadah Haji

Saya yakin, yang paling mudah tapi sulit untuk meyakininya adalah melakukan start up. Start up dalam istilah lain adalah berniat. Tempatnya dalam hati, tidak ada biaya yang harus dikeluarkan dan memiliki keyakinan yang berbeda antar satu individu satu dengan yang lainnya. Memulai untuk "mau" beribadah sangat mudah dalam hati. Dikatakan mudah karena semua orang bisa melakukannya dalam hati. Gratis lagi. Walaupun begitu, tidak banyak orang yang mampu mengkondisikan hatinya untuk benar-benar start up dalam berniat.

Bila mengacu pada definisi niat "Muqorronan bi fi'lihi" dibarengi dengan pekerjaannya, maka niat tidak sekedar mengazam. Mengazam (berencana) hanya ingin tanpa ada usaha. Niat adalah rencana dan usaha sekaligus. Jadi, start up harus didefiniskan sebagai niat dan itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bagaimana mengkondisikan suasana batin adalah salah satu instrumen untuk meluruskan berniat.

Ada beberapa kategori niat ibadah haji yang sering muncul dalam setiap pribadi. Pertama haji lillah versus haji gengsi. Kategori haji lillah adalah kategori yang murni haji dilakukan karena ingin mendapatkan kesempurnaan dalam berislamnya. Bila rukun itu dianalogikan sebagai komponen rumah, maka berislam itu terdiri dari komponen (1) fondasi, (2) lantai, (3) dinding, dan (4) atap. Untuk menyempurnakannya, ada komponen penting namun tidak harus dalam komponen rumah, yakni harus dicat dengan indah. Namun tujuan mengecat rumah bisa karena benar-benar hakiki memperindah rumah atau karena ingin terpuji orang lain dengan kalimat "rumahnya bagus".

Haji lillah tidak memasukan pandangan orang lain dalam ibadahnya. Ia hanya melihat Allah sebagai tujuannya. Ia mengecat rumah karena memang paham bahwa rumah harus dicat. Hakikat rumah memang perlu dicat. Walau dengan cat yang sama, Haji gengsi memasukan unsur pandangan orang lain dalam proses ibadahnya. Ia menginginkan bahwa cat rumah bukan hanya karena hakikat rumah harus dicat, namun biar orang memandang bahwa rumahnya bagus, mewah, berduit dan berkesan memiliki kehormatan lebih.

Tidak dipungkiri, dimensi spiritual ibadah haji di Indonesia telah bergeser dari ajaran yang spiritual-transendental oriented ke spiritual-social oriented. Peletakan "H" sebelum nama sesorang memiliki dampak sosial yang cukup signifikan. Hal ini bisa dipandang sesuatu yang positif atau sebaliknya, negatif. Positifnya ibadah haji dengan ada dimensi kemewahan ber"H" dalam namanya memiliki motivasi tinggi untuk dilakukan, namun negatifnya "H" ini bisa berdampak menghilangkan esensi ibadahnya yaitu penghambaan kepada Sang Kholik. Gengsi akan lebih besar porsi start up nya ketimbang Allah sebagai penyuruhnya.

Jadi, ibadah haji lillah itu memiliki dimensi spiritual yang tinggi dan ibadah haji gengsi berlatar dimensi sosial yang luas. Cara membedakan sebuah status sosial dalam masyarkat muslim itu sangat mudah, yakni dengan melihat rumahnya, kendaraannya dan berhajinya. Bila ketiga pokok itu sudah tampak, maka dapat dipastikan status sosialnya meningkat. Hal inilah yang menyebabkan muslim Indonesia mengantri puluhan tahun untuk segera berhaji. Bahkan tidak sedikit, hajinya mengantri demi melaksanakan haji kedua, ketiga dan seterusnya.

Kedua haji nisab versus haji nasib. Karena ibadah haji itu bukan sekedar ibadah bathin layaknya sholat, Ia membutuhkan dana yang besar untuk biayanya, maka ada dua kecenderungan orang berangkat ke tanah suci. Haji Nisab adalah identitas yang menunjukan bahwa ia berhaji karena uangnya cukup untuk berhaji. Ketika keyakinannya untuk berhaji ingin dilaksanakan, didukung dengan adanya uang, klop sudah untuk berhaji. Maka hajinya itu sudah nisab dan pas. Hatinya dan uangnya menjadi prasyarat untuk melaksanakan haji.

Berbeda dengan haji nisab, haji nasib itu tidak melihat hati dan uang sebagai prasyarat. Karena haji adalah undangan Allah yang maha segalanya, maka haji nasib susah diprediksi keberangkatannya. Biaya yang harus dikeluarkan oleh ibadah haji harus dikemas dalam konteks wayarzuquhu min haesu la yahtasib (rezeki dari arah yang tidak terduga). Haji ini murni undangan Allah walaupun dalam konteks rezeki matematis tidak mungkin ia dapat membayar biaya haji yang super mahal tadi. Haji nasib adalah haji yang dinasibkan Allah untuk datang tanpa embel-embel syarat finansial yang memberatkan. Susah diprediksi, tapi faktanya banyak kasus orang berangkat ke sana dengan cara begitu.

Bagaimana Agar Berangkat Haji?

Pertanyaan ini banyak digunakan oleh orang yang tidak banyak duit tapi ingin berangkat haji. Namun demikian, saya meyakini pertanyaan ini pun tidak serta merta hanya untuk orang yang kurang uangnya, tapi mereka yang memiliki rezeki berlimpah pun tidak otomatis bisa berangkat haji. Uang bukanlah segala-galanya dalam ibadah yang spesial ini. Haji adalah ibadah misterius, dimana dimensi "Undangan" Allah lebih berpengaruh dari segala prasyarat materi. Banyak kasus yang bisa menjadi buktinya.

Karena ini undangan, maka perlu kita "memantaskan diri" untuk diundang dengan cara yang dikehendaki oleh pengundang (Allah). Kepantasan seseorang diundang Allah memiliki variasi dan standar yang berbeda, tetapi pada prinsipnya ketika Allah berkehendak, kun fayakun.  Allah akan membukakan jalannya. Lalu bagaimana caranya?

Pertama percaya diri bahwa Anda akan berangkat haji. Sering saya tanya kepada jemaah atau kolega, apakah ia akan berangkat haji? Jawabannya variatif. Ada yang mengatakan "Insya Allah ingin". Ada juga yang mengatakan "doain yang pak". Ada yang mengataka "aduh gimana ya, saya itu ingin tapi darima ongkosnya?". Ada juga yang mengatakan "wah tidak mungkin, daftarnya aja mahal terus harus nunggu tahunan". Jawaban jawaban seperti itu ternyata menjadi do'a untuk tidak memberangkatkan haji. Ingin tanpa waktu yang jelas. Keraguan hati yang sangat jelas. Materialisme yang menjadi landasan paradigma berpikirnya.

Sebaiknya, kita dengan percaya diri katakan "saya akan berangkat haji tahun 2020". Untuk menguatkan kepercayaan dan pengingatan, tulislah "tahun 2020 saya harus berangkat haji" di depan tempat sujud (mushola) anda. Itu ditujukan biar kita selalu ingat bahwa tahun 2020 Anda harus ibadah haji dn itu janji yang harus ditunaikan. Maka secara spiritual anda akan selalu berdo'a untuk itu, secara material juga anda akan selalu berupaya merealisasikannya. Biasanya, orang yang sudah melakukan hal ini, akan dibukakan jalannya, karena ia percaya diri tahun 2020 harus ke Haji. Do'a itulah yang selalu diaminin oleh para malaikat di langit.

Kedua Yakin akan berangkat. Keyakinan adalah urusan hati. Usaha secara materi harus tetap diupayakan, tetapi hati tetap untuk yakin. "Wah pak, kan harus nunggu bertahun-tahun untuk waiting listnya". Kalau dalam paradigma Anda tergantung kepada aturan pemerintah (bukan aturan Allah) maka do'a anda terhijab oleh aturan pemerintah. Keberangkatan ke tanah suci akan digantungkan kepada keyakinan anda kepada pemerintah bukan kepada Allah. Saya bisa buktikan bahwa itu adalah suatu yang salah.

Tahun ini (2017) saya bertemu seorang ibu rumah tangga. Dalam konteks status sosial, rumah tangganya kurang beruntung. Ia datang ke saya karena petunjuk gurunya, sekaligus guru saya. Ia berniat untuk haji tahun ini. Ia ingin berhaji karena sangat ingin dan telah berjanji untuk berhaji tahun ini. Saya tidak yakin bisa mengurus keberangkatan hajinya, karena sangat mendadak dan hanya satu bulan sebelum tanggal 1 dzulhijjah. Dengan percaya diri, saya minta paspor pada hari rabu, lalu Jum'at saya serahkan ke Jakarta dan pada hari senin keluar paspor untuk berhaji. Keluar visa dalam tiga hari? Ini di luar nalar saya. Luar biasa.

Saat saya tanya kenapa ibu bisa dengan mudah mendapatkan visa haji padahal di luar sana begitu banyak yang telah menunggu bertahun-tahun untuk berangkat haji. Ibu dengan satu minggu saja, sudah dipastikan berangkat haji. Sang Ibu yang hari ini sedang berada di Mekah al Mukaromah itu hanya berujar, "saya yakin, saya bisa berangkat tahun ini. Allah mengundang, maka Allah akan siapkan segalanya. Walaupun saya tidak tahu harus bagaimana, saya yakin, Allah selalu memberi kemudahan." Dan apa yang saya lihat, kemudahan itu datang secara beruntun. Kejadian ini mirip dengan yang saya alami.

Tahun 2014 saya berangkat haji dengan dramatis. Saya sebut dramatis, karena di luar dugaan, nalar dan prosesnya yang sangat cepat. Uang tidak ada, waktu yang sempit dan situasi yang sulit untuk meninggalkan keluarga dalam keadaan saat itu. Namun, saya sudah berniat itu pada tahun 2013. Saat itu saya tidak tahu harus darimana biaya keberangkatan haji. Yang jelas di tahun itu saya ingin sekali berangkat haji walaupun kondisi finansial tidak memungkinkan. Di tahun itulah saya berniat tahun depan (2014) saya harus berangkat. Karena saya belum daftar ke pemerintah, maka hal yang paling memungkinkan saya berangkat lewat jalur non pemerintah.

Ketika saya meyakini akan berangkat 2014, sebulan sebelum berangkat saya titipkan paspor kepada seorang guru (sekaligus sahabat) yang menjadi agen haji. Saya tidak tahu dan tidak bisa memprediksi darimana uang untuk membeli visa haji yang mahal itu. Dan apa yang terjadi, seminggu setelahnya saya dikabari bahwa paspor saya telah ditempeli visa Saudi dan bisa berangkat tahun ini. Maka, hati saya jadi dag dig dug gak karuan karena harus mempersiapkan uangnya. Namun, dengan izin Allah uang yang banyak itu tidak tahu bisa terkumpul dengan mudah. Usaha yang dilakukan begitu mudah dan ada jalannya. Subhanalloh.

Bagi kaum rasional-positivistik hal ini adalah aneh. Ya, saya juga sebagai kaum akademisi yang menjadi bagian pengikut John Lock yang sangat measurable dan observable tidak bisa menerimanya. Namun, itu fakta yang terjadi. Secara nalar, saya ragu, tapi setelah menjalaninya, saya yakin akan itu. Bukankah ilmu itu harus diawali dengan keyakinan? Bukankah Einstein dengan relativitasnya diawali dengan keyakinan saja? Bukankah Stephen Hawkin belum pernah membuktikan "black hole" teori yang diyakininya?

***

Haji adalah ibadah keyakinan. Yakin dengan memantaskan diri untuk diundang Sang pemilik Baitullah. Yakin atas niat yang dibarengi dengan keikhlasan diri dan penyerahan total atas kehendak-Nya. Yakin atas upaya operasional yang bukan hanya dibunyikan dalam ruang abstrak tetapi dalam dimensi konkrit yang terukur. Yakin atas matematika ibadah tidak linier dengan ilmu matematika konvensional. Yakin atas janji Allah, bila Ia memerintahkan maka akan dipenuhi prasyaratnya. Yakin bila ini undangan, maka Sang pengundanglah yang akan mempersiapkan segalanya. Anda yakin? Silahkan putuskan. {}

Bumisyafikri, menjelang subuh. 25/08/17

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun