Ini sama saja dengan handphone yang digunakan Makhfudz Sapp, teman saya yang fotografer kondang itu. Ia memang membelinya seharga enam juta lebih dalam keadaan baru. Ia selalu memakainya memotret obyek yang ringan-ringan dan simpel-simpel. Dan, hasilnya memang jempolan.
Sejak itu saya menggunakan handphone Huawei P9 untuk foto-foto. Memanfaatkannya selfie-selfie. Saya puas memakainya. Beberapa teman yang saya foto, berdecak kagum melihat hasil jepretan saya. Pokoknya, apa yang Ali bilang bukan sekedar ngecap, tapi terbukti nyata.
Tak perlu saya membeli kamera Leica yang harganya ratusan juta itu seperti kebiasaan Makhfudz, yang setiap ada produk barunya keluar, langsung ia menyambarnya. Ia tak peduli, berapapun harganya.
Betul, beli Huawei P9 ini sama saja beli kamera berteknologi Leica, dapat bonus handphone.
Tapi ketika saya berada di benua biru yang sedang memasuki winter saat itu, dan mengandalkan Huawei P9 ini foto-foto untuk kepentingan apdate status di medsos, saya jadi nelangsa!
Saya kecewa lantaran pada suhu di bawah 5C, handphone saya ini langsung drop. Simbol baterai di sudut kanan atas langsung berwarna merah dengan tulisan disampingnya 1%.
Sejenak kemudian, mati!
Selalu begitu. Saya hitung-hitung sudah 5 kali terjadi begitu dalam kurung waktu baru dua hari saya di Eropa. Padahal saya telah mengecasnya hingga batereinya terisi penuh, dan belum terhitung jam saya berada di outdoor.
Mungkin karena handphone saya bekas pakai kali, pikir saya.
Tetapi, begitu saya masuk ke toko, atau ke ruangan yang hangat, dan mengaktifkan handphone saya itu, eh masih ada nyawanya di atas 75%. Selalu begitu. Berulang-ulang saya mengalaminya?
Ada apa dengan baterai Huawei P9 ini?