Mohon tunggu...
Zabidi Mutiullah
Zabidi Mutiullah Mohon Tunggu... Wiraswasta - Concern pada soal etika sosial politik

Sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Implikasi Kaesang Pangarep Jadi Ketua Umum PSI

26 September 2023   10:01 Diperbarui: 27 September 2023   11:08 642
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Resmi sudah PSI angkat putra sulung Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep, sebagai Ketua Umum atau Ketum. Menggantikan posisi Giring Ganesha yang kemudian pindah “tempat” menjadi anggota Dewan Pembina.

Jatuhnya Ketum PSI ke tangan Kaesang tentu menimbulkan berbagai syak wasangka dan persepsi. Bagaimana tidak, baru sekitar 3 harian mendapat KTA, Kaesang langsung menduduki jabatan puncak elit PSI.

Itu tentu juga menimbulkan keterkejutan. Siapa sangka, Kaesang yang hidup dilingkungan keluarga pendukung berat PDIP,  justru memilih saluran politik yang berbeda. Bahkan dibanding Sang Bapak.

Anda tahu sendiri kan, kalau secara politik Pak Joko Widodo dibesarkan oleh PDIP. Maka tak salah kalau kakak Kaesang, yaitu Gibran Rakabuming Raka, memilih PDIP pula buat kendaraan menjabat Wali Kota Solo. Kaesang ini nyeleneh. Milihnya kok malah PSI.

PSI lagi bermanuver sebagai strategi pemilu 2024? Menurut saya iya. Apalagi yang dituju, kalau bukan untuk kepentingan kampanye menambah elektoral. Agar pada pemilu legislatif 2024 mendatang PSI mampu menembus senayan.

Firmansyah, dalam "Mengelola Partai Politik : Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi", Yayasan Obor 2007 menulis, bahwa ada tiga strategi partai politik ketika melakukan kampanye.

Pertama, ialah push political marketing. Yaitu melakukan pemasaran produk politik secara langsung kepada para pemilih. Kedua, pull political marketing. Yaitu pemasaran produk politik lewat media massa.

Ketiga, pass political marketing. Saya sarikan uraiannya, yaitu pemasaran produk politik dengan cara memanfaatkan eksistensi kelompok, tokoh atau organisasi yang memiliki pengaruh luas di masyarakat.

Hampir semua partai politik, baik yang masih baru berdiri maupun yang sudah lama malang melintang ada pengalaman rebutan suara, pasti melakukan ketiga strategi kampanye tersebut.

Turun langsung, atau blusukan kerumah-rumah para pemilih sudah biasa. Promosi dalam berbagai bentuk sponsor, pasti. Serta menggunakan eksistensi tokoh dan golongan tertentu, adalah suatu hal yang tak mungkin dielakkan.

Hanya saja, khusus tentang pelaksanaan strategi yang ketiga, PSI ambil pilihan cara berbeda. Bisa jadi agar tujuannya memperoleh hasil instan. Langsung beroleh suara berlipat pada pemilu 2024, tanpa perlu lagi tunggu periode mendatang.

Apa cara berbeda itu..? Kalau partai-partai lain menggaet tokoh atau satu golongan semata buat vote getter, maka PSI lebih dari itu. Buat vote getter memang, tapi sekaligus juga sebagai patronase.

Secara makna, vote getter adalah rekruitmen tokoh atau golongan oleh satu partai politik, guna menarik suara para simpatisan yang punya afiliasi kepada yang bersangkutan.

Jaman pemilu Orde Baru dulu, vote getter diambilkan dari para ulama atau kyai. Lalu didaftarkan sebagai caleg. Jika ada di urut jadi, kelak akan mundur pasca pemilu. Untuk kemudian diganti oleh personil nomor urut berikutnya.

Diakui atau tidak, Gibran punya pengaruh. Baik dalam kapasitasnya sebagai pribadi maupun sunnatullahnya sebagai anak presiden Jokowi. Dan tentu saja, munculnya fakta Kaesang ketua umum PSI membawa keuntungan dobel bagi PSI.

Istilahnya, terjadi dua dampak positif sekaligus. Sebagai pribadi, Kaesang merupakan magnet kaum muda. Sebagai anak presiden, relatif mampu menyedot suara para relawan yang terbukti dua kali menjadikan bapaknya presiden dua periode.

Imbas dobel lainnya adalah ketika pada pileg 2024 mendatang PSI mampu tembus ke Senayan. Hingga bisa ikut serta berperan aktif menata perjalanan bangsa dalam bentuk perjuangan aspirasi dan penyusunan regulasi.

Kalau cita-cita tersebut sukses, PSI punya masa depan cerah cukup panjang. Sebagai patronase, Kaesang yang umurnya masih sangat muda, tetap dapat memainkan peran hingga beberapa puluh tahun kedepan.

Cuma, apakah posisi Kaesang nanti ketika sudah tergolong tokoh “sepuh” akan tetap jadi Ketum atau pindah posisi ke Dewan Pembina, tentu kembali berpulang pada keputusan politik PSI sendiri.

Tapi, dimanapun kedudukan Kaesang pada akhirnya, akan mampu menjadikan eksistensi PSI berkibar. Bahkan kemungkinan naik status menjadi partai kelas menengah atau bahkan atas.

Saat ini, Kaesang sudah menjadi bagian penting dari PSI. Sebaliknya, bisa saja merupakan fakta agak “mengherankan” dimata sebagian masyarakat, konstituen PDIP dan terutama internal keluarga Pak Jokowi.

Pertanyaanya adalah, akankah secara jangka panjang Kaesang terus bertahan hingga kelak PSI ada di posisi rival berat bagi PDIP..? Lalu bagaimana dengan posisi Sang kakak bernama Gibran yang saat ini justru merupakan kader PDIP..?

Itu yang menarik untuk dibicarakan. Dengan asumsi bahwa nanti eksistensi PSI merupakan partai yang diperhitungkan meski tak sekuat PDIP, jelas merupakan kesulitan bagi keluarga Pak Jokowi, terutama Gibran.

Satu sisi, Gibran adalah tokoh yang digadang-gadang oleh PDIP untuk duduk di kursi eksekutif, baik Kepala Daerah maupun Presiden misalnya. Sedang pada sisi lain, ada Kaesang di PSI yang juga punya kekuatan, kharisma dan potensi yang sama dengan Gibran.

Sementara itu, berhubung sosok Pak Jokowi melegenda, tetap harum namanya karena sukses memimpin Indonesia, para pemilih bisa jadi punya idealisme, bahwa tiap anak keturunan Jokowi dianggap sebagai pewaris kemampuan beliau.

Maka ada kemungkinan besar, Gibran dan Kaesang kelak berhadap-hadapan sebagai lawan politik. Gibran di majukan oleh PDIP, dan Kaesang oleh PSI. Kalau benar-benar terwujud, wah sungguh amat menarik.

Dengan di dampingi oleh partai politik dan koalisinya masing-masing, kakak beradik itu akan terlibat rebutan suara. Saling ambil dan caplok sumber daya yang ada di internal keluarga.

Sebagai pembelajaran dan pendewasaan politik, rebutan suara kakak beradik demikian itu bagus. Masyarakat umum bisa belajar demokrasi yang benar. Bahwa meski beda pilihan politik, tak perlu mengarah pada perpecahan. Contohnya, ya keluarga Pak Joowi tersebut.

Namun disamping itu, ada pula kemungkinan kakak-beradik itu malah kolaborasi menjadi teman koalisi. Siapa tahu, namanya juga dunia politik. Mirip PKB yang kemudian justru mendukung pencapresan Anies Baswedan.

Padanannya, kelak PDIP yang kita ketahui sekarang lagi mendapat respon kurang positif dari PSI gara-gara proses pencapresan Ganjar Pranowo, nanti malah lengket dengan PSI.

Kedua parpol lalu menduetkan Gibran dan Kaesang sebagai kandidat pertama dan kedua. Kalau di arena pilkada, Gibran cagub dan Kaesang cawagub. Jika pilpres, Gibran capres dan Kaesang cawapres.

Hanya saja, meski di prediksi bakal menjadi pasangan kuat, fenomena menduetkan Gibran-Kaesang tak elok secara etika. Masak harus segitunya. Dua pucuk pimpinan strategis sama-sama ingin diambil. Apa bukan kemaruk namanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun