Mohon tunggu...
Yusep Hendarsyah
Yusep Hendarsyah Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Kompasianer, Blogger, Bapak Dua Anak

Si Papi dari Duo KYH, sangat menyukai Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

[Ketapels Duo Kartini] Sosok Kartini Itu Ada pada Yuli Suprianti

21 April 2016   20:40 Diperbarui: 21 April 2016   20:53 71
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kartini  itu hidup hingga kini dalam sosok  Yuli Suprianti  Sang Relawan Kesehatan

Kini tak perlu ada lagi ungkapan kejam " Yang Miskin Dilarang Sakit" .

Pemerintah sudah menjamin semua warga negara untuk mendapatkan haknya dalam kesehatan melalui

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 

 [caption caption="Yuli berbaju putih Kartini Modern di bidang Kesehatan , foto :dokpri"][/caption]Resto Dago, Pamulang menjadi saksi  pertemuan para Kompasianer Tangerang Selatan Plus (ketapels) dengan Relawan Yuli sang penerima penghargaan sebagai P erempuan Inspiratif  Tabloid Nova 2015. Yuli  Suprianti biasa dipanggil Yuli  menceritakan awal pertama kali dia mengenal seluk beluk prosedural pelayanan rumah sakit. Diawali  cerita ketika dia membantu tetangganya yang masuk rumah sakit dan mendapatkan perlakuan yang berbelit belit hingga akhirnya diketahui tetangganya telah meninggal dunia. Mendengar berita itu  Yuli kaget  dan tak mengira usahanya  berakhir sia-sia . Kemudian dengan tekad bulat  berikrar akan membantu siapa saja yang membutuhkan bantuannya  kapanpun dan dimanapun . Wilayah kerjanya yang cukup luas meliputi Banten,DKI dan Jakarta tak jarang ponselnya  selalu saja berdering dari para pasien yang mengalami kendala procedural  di rumah sakit. Kadang instruksinya yang terdengar ke pasien “ Masukan saja pasien ke UGD/ICU, cari ranjang kosong lalu  tidurkan. Pasien punya hak 8 jam untuk mendapatkan perawatan terlebih dahulu sebelum melengkapi administrasi.Kadang instruksinya ini tak berlaku ketika ada rumah sakit yang sedikit “pintar” menahan pasien lainnya berlama lama di ruang ICU/UGD sehingga pasien yang baru datang harus mengantri atau pindah mencari rumah sakit yang lainnya”. Kata Yuli.

Sungguh, saya pribadi ketika mendengar penuturannya sangat terenyuh hati. Meski memiliki jaminan dari pemerintah seperti halnya Jaminan Kesehatan Nasional (ASKES,BPJS, Kartu Sehat) namun di negeri ini masih melakukan praktik praktik menghisap orang kecil. Biaya kesehatan semisal operasi yang seharusnya gratis dibuat berbayar, kamar ICU yang seharusnya free bias bisanya keluarga pasien hingga ratusan juta  karena ketidak tahuan pasien dan keluarganya menempati kelas VIP . Sekadar pemberitahuan kamar kelas satu hingga tiga semuanya free dan dijamin oleh program BPJS hanya VIP saja yang akan dikenakan biaya. “ Di salah satu rumah sakit ada pasien yang masuk ICU/ UGD dan di rawat lama, pihak rumah sakit meminta kepada keluarga pasien untuk tidur di kamar VIP dan tagihannya pun akhirnya membengkak” .Tutur Yuli.

Pihak keluarga pasien akhirnya meminta bantuan kepada Yuli untuk di advokasi ke rumah sakit.Dengan bernegosiasi dan menerapkan aturan dari  peraturan perundangan yang berlaku tentang kesehatan seperti halnya peraturan menteri kesehatan akhirnya  uang dari keluarga pasien dikembalikan meski hanya 30 persen dari total dana  ratusan juta yang diberikan ke pihak rumah sakit. Memang tidak banyak tapi setidaknya itulah peran dari Yuli sebagai relawan yang mau membantu sesama tanpa pamrih.

Kartini di era modern ini akhirnya menjadi  Pemenang Perempuan Inspiratif Nova 2015 kategori Perempuan  dan Kesehatan.  Di tengah mahalnya biaya kesehatan,  kini hadir BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Sayangnya dalam penyelenggaraannya banyak masyarakat yang belum bisa memanfaatkan secara maksimal. Bahkan tak sedikit masyarakat dibuat trauma dengan pelayanan kesehatan seperti ini.

Di sinilah kehadiran Yuli Suprianti walau tanpa dukungan sponsor maupun penyokong dana dari manapun secara sukarela melakukan advokasi terhadap masyarakat yang tidak mampu dan bermasalah ketika menggunakan BPJS menjadi sangat inspiratif bagi  para juri. Perlu semakin banyak masyarakat yang peduli dengan sesama, yang tergerak untuk melakukan kebaikan walau terlihat sederhana tapi sangat besar artinya bagi orang yang membutuhkan. Hatinya pun menjerit ketika ada teman teman relawan memilih profesi lainnya menjadi calo kesehatan, meminta imbal jasa kepada keluarga pasien yang dibantunya. Tuhan maha adil, Yuli bisa bertahan dari godaan seperti itu karena rezeki selalu saja ada tanpa dipintanya.

 

#semoga bermanfaat

Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun