jangan lagi bertanya bagaiamana mereka hidup, bagaimana mereka menyekolahkan anak-anak mereka. Tapi berfikirlah bagaimana mereka bisa mempertahankan rasa cinta kepada pasangannya masing-masing selama itu dengan hanya bermodalkan cup mie instan?
Lalu kenapa kita yang berpendidikan tinggi, diberi kedudukan derajat tinggi dan diberi kesempatan untuk menikmati kemewahan kehidupan yang diberikan Tuhan tanpa batas merasa kekaurangan cinta?. Lalu mengapakah kita sering mudah mengatakan dan melukai cinta itu sendiri ..?
Seharusnya cinta lebih besar dari mereka punya. Karena Tuhan memberikan rasa itu untuk bisa dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Atau kitalah yang sebenarnya potret dari kemiskinan itu sendiri dari perspektif cinta.
Cinta , makhluk berwajah apakah dirimu di mataku, dimatanya dan di mata Mu ?
Aku menemukannya dalam cup mie instan yang bergeser kalau hujan tiba.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H