Tetapi bisa dengan lancar dan cepat melewati jalanan menuju kepada tujuan akhir, yaitu "Habis Gelap Terbitlah Terang". Sebuah simbol yang nyaris sempurna bagi kehidupan wanita di Indonesia.
Apa yang dilakukan Kartini 130-an tahun yang silam adalah "menyingkirikan batu-batu kerikil tajam" di jalanan wanita Indonesia. Dan yang mendorong dengan cepat wanita Indonesia bisa berubah dengan cepat dan mengambil peran-peran penting yang setara dengan kaum pria.Â
Batu kerikit tajam adalah kungkungan budaya feodal nan paternalistik yang nyaris membuat wanita tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan kemampuan serta kompetensi yang sangat besar.Â
Yang dilakukan Kartini bukan juga menyingkirkan kaum pria, tetapi menunjukkan bahwa Wanita itu salah sumberdaya yang sangat potensial dan besar untuk ikut berpartisipasi untuk memajukan kehidupan, peradaban dan ilmu pengetahuan serta teknologi.Â
Dengan terobosan Kartini, meruntuh-robohkan tembok-tembok dagma dan tentang wanita sebagai makhluk yang lemah dan tidak perlu diperhitungkan.
Pertanyaannya mendasarnya adalah bagaimana cara menyingkirkan batu kerikil tajam itu ?Jawabannya sungguh sangat singkat dan simple, yaitu "pendidikan".Â
Hanya melalui pendidikanlah wanita bisa menjadi RA Kartini baik di zaman old maupun zaman now nan zaman milenial. Didiklah para wanita, berikanlah kesempatan yang cukup buat mereka, support mereka dan tuntun mereka maka wanita akan menjadi sumber daya yang sangat dahsyat.Â
Bahkan ada banyak kelebihan yang dimiliki oleh para wanita ini bila mereka diberi kempatan dan support. Dalam belajar dan bekerja wanita cenderung jauh lebih fokus dan efektif untuk menyelesaikan masalah. Mereka termasuk cepat sampai di tujuan akhir.
Bila jalur pendidikan menjadi satu-satunya jalan untuk menyingkirkan kerikil tajam bagi wanita, maka masalah yang dihadapi oleh negara ini adalah sistem pendidikan yang masih jauh dari memadai untuk mendorong lebih cepat dan massive bagi wanita untuk belajar.Â
Keterbatasan kemampuan lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta menjadi Kendal utama. Juga pelaksanaan kebijakan pendidikan masih belum berpihak sepenuhnya bagi wanita di Indonesia.Â
Dalam praktek, jauh lebih banyak kisah pilu nan tragis yang dihadapi oleh para wanita. Masalah begitu besar, berkejaran dengan keterbatasan kemampuan lembaga pendidikan menyebabkan kisah R A Kartini lebih sering muncul dalam kisah sedih dan pilu. Â