Mohon tunggu...
yuli maulanarizqiyah
yuli maulanarizqiyah Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswi Psikologi

Seseorang yang tertarik dengan cara interaksi manusia, cara berpikir manusia, dan sikap manusia sehari-hari. Sering disangka pendiam, padahal tidak. Suka berpikir sesuatu yang tidak penting.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Mempelajari Periode Setelah Melahirkan dari Sisi Ilmu Psikologi

6 Januari 2020   22:54 Diperbarui: 6 Januari 2020   23:01 1526
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kali ini saya akan berbagi ilmu tentang periode sesudah kelahiran atau biasa yang disebut dengan pascakelahiran, bersumber dari ilmu psikologi perkembangan. Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui, khususnya bagi pengasuh/orang tua untuk mempersiapkan hari setelah kelahiran. Kelahiran seorang bayi akan menjadi momen yang sangat menantang bagi orang tua, apalagi bagi mereka sebagai orang tua baru yang memiliki bayi.

Ada tiga hal yang akan menjelaskan perubahan-perubahan dalam masa-masa sesudah melahirkan, yaitu:

1. Penyesuaian Fisik.

Menurut (Runquist, 2007), seorang ibu bisa saja merasa sangat berenergi atau malah merasa sangat lelah dan kecewa. Walupun perubahan tersebut normal, akan tetapi kelelahan dan kekecewaan ibu bisa mengurangi tingkat kebahagiaan dan kesejahteraannya, serta mengurangi keyakinan si ibu dalam mengurus bayinya dalam kehidupan di keluarga baru mereka.

Salah satu masalah yang dialami si ibu adalah kurangnya waktu tidur di malam hari. Dalam survey Sleep in America tahun 2007 menyatakan bahwa persentase ibu-ibu yang mengalami kekurangan waktu tidur di malam hari pasca kelahiran ada 80%. Disis lain, setelah melahirkan, seorang ibu mengalami perubahan tiba-tiba dan secara dramatis terkait hormon, dimana kadar hormon estrogen dan progesteron mengalami penurunan drastis, dan keadaan tersebut berlangsung hingga indung telur mulai menghasilkan telur lagi.

Dalam tahap ini, ada juga fase involusi yang merupakan proses kembalinya rahim ke ukuran semula dan berlangsung dari lima hingga enam minggu setelah kelahiran.

2. Penyesuaian emosional dan psikologis

Goncangan emosi sangat umum dijumpai pada ibu-ibu setelah melahirkan.  Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 70 persen para ibu baru di Amerika mengalami postpartum blues. Hal tersebut ditandai dengan perasaan depresi, cemas, dan bingung pada sekitar dua atau tiga hari setelah melahirkan. Perasaan ini sering mencapai puncaknya sekitar tiga hingga lima hari setelah melahirkan.  Perasaan tersebut biasanya akan hilang sendiri dalam satu atau dua minggu.

Namun ada juga beberapa perempuan yang menderita depresi pasca melahirkan (postpartum depression) yang meliputi depresi mayor yang biasanya berlangsung selama empat minggu setelah melahirkan. Perempuan yang mengalami depresi pasca melahirkan akan memiliki perasaan sedih, cemas, ataupun putus asa sehingga karena perasaan itulah mereka mengalami kesulitan untuk menangani tugas sehari-hari. Menurut (Nolen-Hoeksema, 2011) apabila tidak ditangani dengan baik, depresi pasca melahirkan dapat memburuk dan berlangsung selama berbulan-bulan. Estimasi mengindikasikan bahwa ada sekitar sepuluh hingga empat belas persen dari seluruh ibu baru ternyata mengalami depresi pascakelahiran.

Tidak hanya ibu, ayah juga mengalami banyak penyesuaian, meskipun mereka tidak dirumah sepanjang hari karena bekerja.  Sebagian besar seorang ayah berpendapat bahwa perhatian ibu lebih terpusat kepada bayinya, dan ada beberapa yang beranggapan bahwa mereka merasa kehadiran mereka tergantikan oleh si bayi.

Menurut (Dietz & kawan-kawan, 2009; Gao, Chan, & Mao, 2009) dukungan dan perawatan terhadap ibu yang baru melahirkan bisa menjadi faktor apakah si ibu nanti akan mengalami ddepresi pascakelahirkan atau tidak. Menurut (Smith & Howard, 2008) dukungan dari ayah terhadap ibu usai melahirkan sangatlah penting, karena  berdasar studi terbaru, dukungan besar dari ayah dapat mengurangi depresi pascakelahiran.

3. Ikatan

Ikatan adalah sebuah relasi antara orang tua dan bayi.  Beberapa dokter menurut (Kennel, 2006; Kennel & McGrath, 1999) berpendapat kalau setelah kelahiran, dalam waktu secepat-cepatnya antara bayi dan orang tua perlu membentuk semacam kelekatan emosional sebagai landasan perkembangan yang optimal pada anak di tahun berikutnya. Kini, banyak rumah sakit yang menawarkan program rooming-in yaitu dimana bayi dan ibu tetap berada dalam satu ruangan. Namun beberapa penelitian menyimpulkan bahwa walaupun bayi di letakkan secara terpisah dari orang tua setelah melahirkna, hal tersebut tidak akan membahayakan bayi secara emosional (Lamb, 1994).

Jadi kesimpulannya, masa setelah melahirkan adalah masa yang butuh banyak usaha untuk penyesuaian,karena adanya individu baru yang menjadi bagian dari sebuah keluarga. Antara bayi dan orang tua diperlukan ikatan untuk kelekatan emosional mereka. Beberapa ibu baru pada masa setelah melahirkan mengalami depresi pascakelahiran, sehingga dukungan dan kasih sayang dari orang terdekat sangatlah diperlukan, apalagi dari si ayah, karena dapat menurunkan tingkat depresi. Seorang ibu yang terkena depresi juga sebaiknya di bantu untuk konsultasi dan menjalani terapi atau pengobatan kepada ahlinya, karena mereka merasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari serta menurunkan tingkat kebahagiaan mereka. Padahal, ibu biasanya adalah orang terdekat yang mengasuh bayi, jadi sudah sewajarnya kalau orang sekitar terutama si ayah memperhatikan kesejahteraan si ibu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun