Secara gamblangnya kerangka teori yang di pakai dalam nalar ini adalah melalui dari dahir kebatin “hakiki dan majazi”. Nalar ini lebih bebas dalam memahami Sesutu, seperti halnya tolok ukur nalar irfani adalah memahami perasaan orang lain, simpati, empati, loyal dan lain sebagainya. Dan hasil keputusannya bukan merujuk pada teks dan hasil pikiran seperti halnya bayani dan burhani, melainkan pada orang lain atau pihak yang lain, kesimpulan hanya muncul ketika mendengar pemahaman dan perasaan orang lain melalui pengalaman zahir atau pun batinnya. Dan keilmuan yang termasuk dalam irfani ini di kategorikan dengan ilmu tasawwur dan akhlak.
Dengan pempetakan dan pengklasifikasian penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwasanya metodologi pemikiran bayani bersumbsr pada teks, baik nash maupun non-nash. Burhani bersumber pada akal atau rasio dan empirical. Irfani bersumber dari kasf, atau pengalaman kebatinan. Dengan demikian katig acara atau metode dalam epistemology islam untuk mengetahui atau menangkap objek-objek ilmu, pertama melalui indra atau pembacaan pada teks yang sangat kompeten untuk mengenal objek-objek fisik dengan cara mengamatinya, kedua melalui akal atau rasio yang mampu mengenal bukan hanya saja benda-benda indrawi, melainkan juga objek-objek non-fisik dengan cara menyimpulkan dari yang telah di ketahui menuju yang tidak diketahui, ketiga hati yang menangkap objek-objek non-fisik atau metafisik melalui kontak langsung dengan objek-objek yang hadir dalam jiwa manusia melalui pengalaman batin. Secara eksistensinya, seluruh rangkaian wujud yang menjadi objek ilmu pengetahuan yang fisik maupun non-fisik dapat diketahui secara nyata oleh manusia.
RUJUKAN PENULISAN
- Lois o. kattsoff, pengantarfilsafat, tiara wacana, Yogyakarta, 2004
- Mulyadikartanegara, mengislamkannalar, erlangga, Jakarta, 2007
- Kherudinnasution, pengantarstudiislam, tazzafa, Yogyakarta,
- Mulyadi kata negara, menembuswaktu panorama filsfatislam, mizan, bandung, 2002
- Fahrimajid, sejarahfilsfatislamsebuahpetakronologis sari filsafatislam, mizan, bandung, 2001
- Madkour Ibrahim, alirandanteorifilsafatislam, bumiaksara, Jakarta, 1995
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H