Mohon tunggu...
Yuli Dewi
Yuli Dewi Mohon Tunggu... -

Aku adalah seorang ibu, social worker yang mengerti sedikit tentang ilmu psikologi. Mengagumi keunikan manusia dalam mengungkapkan cerita hidup mereka dan bermimpi untuk bisa mewujudkan cerita-cerita sendiri dalam untaian tulisan indah….

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Putus Asa

29 Agustus 2012   02:21 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:12 154
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Aku tertunduk lesu…mengaduk kopi yang ada di gelas depan mejaku. Melihat titik-titik hitam yang menyebar di gelas itu, mengumpulkannya menjadi satu titik. Perlahan-lahan ampas kopi itu turun ke bawah membuat endapan yang ada di kopi.

Sebuah surat tergeletak di mejaku, sedetik yang lalu membuat pikiranku pergi entah kemana. Aku dibuang, aku disingkirkan. Itu adalah pesan pertama yang kudapatkan setelah melihat keputusan dari Bosku, aku dipindahkan ke bagian yang selama ini aku benci. Di sisi lain, aku harus meninggalkan kursi hangat (kalo tidak bisa dibilang empuk), dan teman-teman yang selalu support satu sama lain di manajemen yang lama.

Satu per satu teman lamaku telah disingkirkan, dan menyisakan 3 dari kami. Ini semua karena permainan politik yang ada di kantor ini. Sebuah kenyataan yang harus kuhadapi. Dan sedetik, aku harus membuat suatu keputusan. Apakah menerima atau menolak keputusan ini.

Ada banyak pertimbangan kenapa sampai detik ini aku masih berada di sini. Aku merasakan enjoy dengan bidang pekerjaan dan orang-orang yang ada. Disamping memang aturan disini sangat longgar, sehingga setiap orang yang ada dibuat terbuay. Aku telah terlena dalam zona nyaman yang ada.

Di saat kompetensiku telah ditingkatkan, di saat itu pula aku disingkirkan. Bos besar dengan pertimbangan sendiri, tidak melihat potensi yang ada.

Tersentak aku dengar suara, “Gimana gin, apa kamu telah menerima surat itu?”. Wajah separuh baya itu telah sekian lama menemaniku. “ Iya pak, apa Bapak menerimanya?”

“Ini biasa Gin, di kantor ini. Aku telah mengalami 5 kali perpindahan. Dan itu biasa di sini, dengan ada Bos baru, maka akan ada kebijakan baru.”, dia meyakinkanku.

“ Tapi pak, kita semua dipindah, dan Bapak diturunkan jabatannya. Sedang aku sendiri disingkirkan.” Mataku mulai berkaca-kaca melihatnya.

“Aku yakin kamu bisa. Cobalah renungkan kembali dan diskusikan dengan keluargamu. Mungkin kalian bisa membuat keputusan dengan baik.”

Hanya itu-lah kata-kata yang telah kudengar. Di dalam perubahan ini, ada orang yang diuntungkan, karena dia bisa dekat dengan bos.

Kembaliku terisak dengan semua ini. Seakan impianku hancur semua. Berkas kerjaku selama 6 tahun ini hancur berantakan. Akhirnya aku pergi meninggalkan kantor hanya 2 jam setelah aku tiba disana. Aku mencari tempat sendiri…menyimpan kepedihan akibat scenario jahat yang mereka buat. Aku hanya berfikir…Allah pasti memiliki alasan lain.

“Laa yukallifullahu nafsan illa wus aha…”

Allah tidak akan member cobaan pada manusia kecuali mereka mampu menanggungnya..

Saat ini aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Mencoba mencari makna dari setiap pilihan yang Dia berikan untukku.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun