Mohon tunggu...
Sam
Sam Mohon Tunggu... Mahasiswa -

Padi tumbuh tak berisik. -Tan Malaka

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kisah Ibuku, Bekerja Demi Sekolah Anaknya

9 Maret 2016   00:15 Diperbarui: 4 April 2017   17:52 1662
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Ilustrasi: alquranclasses.com"][/caption]Memperingati Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2016 ini, izinkan aku menyampaikan tulisan ini sebagai rasa terima kasih yang sangat dalam kepada Ibu, yang saat ini, saat tulisan ini diunggah, sedang bekerja. Semangat ya Ibu, anakmu jauh di sini selalu mendoakanmu.

Banyak perempuan-perempuan hebat, yang berkarier di bidang politik seperti Hillary Clinton, seperti Kartini yang memperjuangkan kesetaraan derajat kaum hawa, Cut Nyak Dien pahlawan perempuan yang berani memimpin perlawanan rakyat Aceh kepada penjajah, menjadi penyanyi muda berbakat semacam Gita Gutawa, dan jutaan mawar merah di angkasa sana.

Aku sangat menghormati dan memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada perempuan yang sukses di bidangnya, dalam pekerjaannya, memberi warna pada dunia, serta semangatnya yang tak kalah dengan kecepatan mobil Italia. Semoga orang lain juga mempunyai pikiran yang sama denganku.

Dengan haru aku teringat ibu di sana. Perempuan yang membuatku tetap bisa menimba ilmu hingga perguruan tinggi ini. Sepenggal kisah yang terangkum dalam tulisan ini semoga bisa menginspirasi Ibu, Ayah, dan yang merasa punya orang tua.

Alkisah

Beberapa tahun lalu, ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP, muncul sebuah kebijakan dari pemerintah yang cukup menyiksa keluargaku. Saat itu ada kebijakan konversi minyak tanah ke gas elpiji. Ayahku adalah lulusan SLTP yang sebelumnya bekerja sebagai sopir truk tangki minyak tanah. Beliau sudah bekerja selama sekitar 15 tahun, tentu pekerjaan ini dipilih karena tidak ada lapangan kerja lain yang mau menerima ijazah SLTP-nya.

Bekerja sebagai sopir cukup membuat ayah bisa memenuhi nafkah keluarga dengan dua anaknya. Hasil jerih payahnya mengangkut minyak tanah setiap hari dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Pasuruan bahkan mampu untuk membangun rumah, membeli tanah tetangga, dan membeli sepeda motor, meskipun melalui kredit.

Setelah konversi minyak tanah ke gas elpiji itu berjalan, perusahaan tempat ayahku bekerja tutup. Semua karyawannya dikeluarkan, termasuk ayah. Sejak saat itu ayah menganggur, tak ada perusahaan yang mau menerimanya bekerja dengan ijazah rendah. Setiap hari beliau membantu ibu memasak, menggantikan pekerjaan ibu seperti menyapu dan mencuci pakaian sebagai bentuk tanggung jawab. Tak jarang juga ayah meminta maaf kepada ibu dan anak-anaknya akibat keadaan tersebut.

Selama tiga bulan sejak ayah tak lagi bekerja aku tidak pernah meminta uang saku untuk sekolah. Aku hanya diberi uang untuk transpor sebesar 2000 rupiah. Aku mengerti kondisi sulit yang terjadi. Sampai ketika ada penarikan uang wajib untuk membeli buku latihan (LKS). Aku jelaskan kepada ibu mengenai penarikan uang tersebut dan dengan menangis aku berkata jika masih belum ada uang lebih baik aku berhenti sekolah sementara agar tidak membebani orang tua. Dengan menangis juga ibu seketika memelukku.

Keesokan harinya tiba-tiba ada uang di atas lipatan seragam yang akan aku pakai sekolah, di sampingnya ada kertas bertuliskan “untuk bayar LKS”. Aku tidak tahu siapa yang memberi uang tersebut, aku mencari ibu untuk pamit berangkat sekolah namun tidak ada di sekitar rumah, mungkin dia sedang belanja ke pasar dengan ayah. Ternyata, pagi itu ibu sedang ke rumah temannya untuk menanyakan lowongan kerja dan uang tersebut dipinjamnya dari tetangga sebelah rumah.

Ibuku Bekerja

Seminggu setelah itu, setelah mengirim surat lamaran dengan bantuan temannya, akhirnya ibuku bekerja di sebuah pabrik pembuatan mie tak jauh dari rumah. Ayah sempat tidak menyetujui hal tersebut karena bukan kewajiban seorang istri untuk bekerja. Alhasil, hari pertama ibu bekerja hanya setengah hari kemudian pulang karena sakit dan muntah, katanya tidak tahan dengan dinginnya AC. Percobaan awal bekerja gagal karena tak ada restu dari suami.

Ibu terus memaksa untuk bekerja demi terus menyekolahkan anaknya. Dengan ijazah SLTA, ibu lebih mudah mencari pekerjaan meskipun hanya sebagai buruh pabrik. Dengan berat hati akhirnya ayah merestui ibu bekerja. Setiap hari ayah mengantar serta menjemput ibu di sebuah pabrik pengolahan udang dan kepiting. Gajinya sementara cukuplah untuk belanja kebutuhan keluarga.

Sebulan setelahnya, ayah juga mendapat pekerjaan, kali ini sebagai sopir distributor air mineral. Alhamdulillah kali ini keluargaku berkecukupan kembali. Ibu yang sudah asyik dengan pekerjaannya, tidak mau disuruh berhenti oleh ayah. Akhirnya ayah dan ibu sama-sama bekerja seiring dengan aku yang semakin rajin dan semangat untuk sekolah. Aku tidak mau menyiakan perjuangan kedua orang tua.

Nasib rumahku

Karena kedua orang tuaku bekerja, yang terkadang ibu harus bekerja di malam hari karena shift, membuatku harus mengurus pekerjaan rumah. Tiap pagi aku menyiapkan sarapan, malam harinya aku memasak nasi, sore hari aku harus menyapu dan mencuci piring. Tapi aku menikmati rutinitas tersebut, sembari membayangkan betapa beratnya kewajiban seorang ibu di rumah.

Aku tidak pernah memasak sayur karena tidak bisa. Jadi makanan sehari-hari hanya berlauk tempe atau telur ceplok. Dengan makanan yang seperti itu ayahku tetap saja bersikeras tidak mau mengambil lauk. Katanya lauk itu untuk anaknya saja, ayah cukup makan nasi sama kecap. Ayahku ini memang lelaki sejati. Sayur hanya bisa dinikmati di hari minggu saat ibu libur.

Seharinya rumahku sepi, ibu harus berangkat subuh-subuh dan pulang saat maghrib jika shift pagi. Jika shift malam, ibu berangkat setelah sholat ashar dan pulang jam 7 pagi. Ayah berangkat kerja sambil mengantar adik ke sekolah. Jam 9 malam kami sekeluarga sudah tertidur karena rasa lelah.

Sekarang

Rutinitas itu aku lakukan mulai dari SMP hingga tamat SMA. Katanya, sekarang adik menggantikan pekerjaanku di rumah, semangat ya. Saat ini aku duduk di bangku kuliah semester 4 dengan beasiswa pendidikan penuh. Alhamdulillah sudah tidak memberatkan orang tua lagi, aku sudah bisa swasembada pangan.

Ayahku tetap bekerja sebagai sopir distributor air mineral sampai sekarang. Begitu juga ibu, dia sangat senang ketika melihatku pulang ke rumah tiap 6 bulan sekali. Aku juga senang bisa melihat keluargaku sehat dan makin harmonis semenjak aku kuliah.

Terima kasih Ibu, Ayah, dan adikku. Aku bangga menjadi bagian keluarga kalian. Aku berjanji suatu saat nanti pasti bisa membahagiakan keluargaku lebih dari ini.

Ibu, yang saat ini sedang bekerja shift malam. Semangat ya.

 [caption caption="Anak ibu yang sederhana: aku."]

[/caption]

 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun