Mohon tunggu...
Yulia Sujarwo
Yulia Sujarwo Mohon Tunggu... Freelancer - History Enthusiast, host youtube channel @HistoricalInsight

history is my passion

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Sate Ratu Jogja, Sate Anti "Mainstream" yang Lezat dan Digemari Lidah Mas-Mbak Bule

25 Agustus 2018   16:53 Diperbarui: 25 Agustus 2018   20:35 3479
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Food  is an art and science. Just enjoy the secret recipe then it makes you happy. So food is just not eating but also experience" -- selfquote

"Maknyuss dan juicy banget!", Itulah pertama kali yang terucap ketika saya menyantap Sate Ratu. Pria berkaos hitam dengan sorot mata yang agak tajam itu tersenyum lebar dan seraya berkata "terima kasih mbak". Pria tersebut adalah owner Sate Ratu yang bernama Fabian Budi Seputro. Jujur, saya senang sekali ketika berkesempatan mencicipi hidangan yang unik tersebut bersama kawan-kawan dari Kompasianer Jogja pada tanggal 18 Agustus 2018 yang lalu.

Gigitan pertama yang maknyuss itu berhasil membuat lidah  saya terkagum-kagum. Sate opo iki? Kemudian saya mencoba menerka-nerka bumbu apa saja sehingga membuat sate ini berbeda dari yang lain. Ketika saya bertanya kepada Pak Budi tentang bumbu apa saja yang membuat sate ini istimewa. Beliau malah bilang, "saya tantang mbak untuk menebak".

Fabian Budi Seputro, owner Sate Ratu. Dok : Riana Dewi
Fabian Budi Seputro, owner Sate Ratu. Dok : Riana Dewi
Welah dalah, saya semakin penasaran lalu mengunyah kembali dan menelan pelan-pelan dagingnya. Warung ini, membuat saya nyaman dan kembali menyantap sate sampai habis tak tersisa bahkan saya menghabiskan jatah nasi Mbak Riana kala itu. Nyam-nyam banget pokoknya.

Warung Sate Ratu yang berlokasi di Jogja Paradise Food Court, Jl Magelang KM 6 ini,  sebelumnya berada di depan dekat dengan tempat parkir kendaraan tetapi kemudian pindah ke bagian belakang pojok sendiri karena tempatnya yang lebih luas dan nyaman. 

Sampingya pun terdapat arena bermain utuk anak-anak yang cukup luas. Cocok dikunjungi beserta family. Warung ini buka setiap hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 10 pagi hingga pukul 9 malam. Sate Ratu ini juga  melayani orderan melalui gojek/grab loh. Jadi mas mbak yang males keluar rumah atau kos bisa order lewat aplikasi go food dan grab food.

Well, sebelumnya saya tidak yakin ketika diajak Kompasianer Jogja ikut dolan kuliner ini karena saya tidak suka menyantap daging ayam. Bisa dibilang saya adalah seorang "half vegetarian". Tapi realitanya, saya malah ketagihan makan sate Ratu ini hingga saya tidak ingat sudah berapa tusuk sate yang saya santap hehe. Do you want to know more about Sate Ratu? Hingga membuat saya penasaran sampai detik ini ketika saya menulis tentang sate endes tersebut. Begini ceritanya.

Awal Mula Cerita tentang Sate Ratu

Sate Ratu yang mempunyai fans wisatawan mancanegara ini adalah bisnis kuliner yang didirikan oleh pasangan suami istri, Fabian Budi Seputro dan Maria Watampone pada bulan Juli 2015. Pada mulanya, warung ini berkonsep angkringan modern yang diberi nama Angkringan Ratu. Pemberian nama warung dengan kata "ratu" dipilih karena mengandung unsur tradisional jawa yang kental,  namun di sisi lain mempunyai makna kasta tertinggi yaitu makna premium.

Well, seperti yang kita ketahui. Jogjakarta sejak dari dahulu kala terkenal akan angkringan dan warung rakyat ini menawarkan sesuatu yang beda.  Murah memang harganya,  tapi tidak murahan dari kualitas makanannya.

Angkringan Ratu menjual menu dari hasil olahan sendiri, tidak ada yang titipan seperti angkringan kebanyakan di Yogyakarta. Kala itu ada sekitar 21 menu yang ditawarkan di Angkringan Ratu. 

Seiring berjalannya waktu, owner melihat dan mengamati perkembangan usaha kulinernya, akhirnya Budi bermanuver mengambil keputuskan untuk mengubah Angkringan Ratu menjadi warung yang diberi nama Sate Ratu dan berpindah alamat yang semula di Jl. Urip Sumiharjo (sebelah timur galeri mall) ke Jogja Paradise Food Court, Jl. Magelang KM 6 pada bulan Maret 2016 dengan mengusung 3 menu unggulan yakni sate merah, sate lilit (sekarang menjadi lilit basah berbentuk kotak),  dan ceker tugel. Namun menu ceker tugel tidak bisa disajikan tiap hari.

Sate Merah

Sate Merah ini adalah yang menjadi menu unggulan warung ini. satenya pun istimewa ketika disaikan tidak memakai bumbu kacang. Sate anti mainstream dan berbeda dari yang lain. Dinamai sate merah karena saat sebelum dibakar daging sudah direndam dengan bumbu merah rahasia  selama 3 jam. Oleh karena itu bumbunya bisa meresap hingga ke lapisan terdalam. Kemudian dilumuri dengan bumbu cabai. 

Bumbu yang saya lihat adalah cabe merah yang sudah di ulek dan di campur dengan bumbu lainnya. Sekilas tampak juga ada biji jeruk nipis kalau tidak salah hehe. Setelah diolesi dan dilumuri kemudian dibakar. Ketika membakar sate ini pun hanya sedikit yang gosong. Tehnik pemotongan daging pun tidak kotak-kotak atau tipis seperti kebanyakan yang saya lihat di warung-warung sate lainnya. Potongan daging sate ini acak terkesan mawut tidak berpola. Tapi justru itu keunikannnya. Totally unic!

Sate Merah sebelum dibakar diolesi adonan cabe dan bumbu. Dok Pribadi
Sate Merah sebelum dibakar diolesi adonan cabe dan bumbu. Dok Pribadi
Sate Merah saat dibakar. Dok : Pribadi
Sate Merah saat dibakar. Dok : Pribadi
Bumbu rahasia ini merupakan hasil eksperimen dari campuran bumbu Lombok dan Banjarmasin katanya. Unsur bumbu ini salah satunya diambil dari daerah Kecamatan Rembiga (baca Rembige) kemudian di kombinasi lagi dari unsur bumbu Banjarmasin dan diolah lagi dengan bahan yang lain. Owner juga menegaskan, malah tidak ada unsur Jogja dalam bumbu ini.

"Tak hanya sekali , dua kali kami bereksperimen membuat bumbu rahasia ini. semua butuh ketelatenan dan mengerahkan segala kepekaan cita rasa sehingga membuat bumbu ini istimewa". Tegasnya.

Jika dilihat sepintas sate merah ini tampak pedas sekali jika dimakan tapi itu salah. Sate merah ini tidak terlalu pedas bahkan wisatawan mancanegara khususnya Eropa amat menyukai sate tersebut. Tulisan "Lekker, delicious, best meal, so yummy, oishi desu ne dan sebagainya, bisa dilihat di dinding warung beserta foto mereka. Inilah bukti jika mereka sangat menyukai sate merah ini. Jujur saja, sate merah ini lebih terkenal di luar negri daripada orang Jogja sendiri. Termasuk saya sendiri, baru mengetahuinya  tempo hari.

penulis berpose di samping dinding yang penuh dengan testimoni pelanggan warung Sate Ratu. Dok Pribadi
penulis berpose di samping dinding yang penuh dengan testimoni pelanggan warung Sate Ratu. Dok Pribadi
"Sate ini sangat istimewa apalagi jika ada turis minta sepiring sate lagi. One more, one more." Budi menirukan gaya turis Cina saat memesan sate merah ini. Beliau juga bilang jika turis-turis yang mengunjungi warung tersebut karena dari "gethuk tular" (informasi mulut ke mulut), driver dan guide yang mengantar mereka. Bahkan ada cerita jika pihak Hotel,hostel dan homestay tahu Sate Ratu dari turis yang tinggal di sana. Selain itu. Mereka tahu Sate Ratu dari Trip Advisor.

"Jadi ada cerita juga, sebelum liburan ke Jogja. Temannya si turis itu bilang ada sate enak di kota Jogja. Mereka mencari dan makan dengan lahap. Setelah itu mereka penasaran dengan mencari nama dan foto temannya yang pernah datang di dinding warung" Ujarnya sambil menunjukkan tulisan-tulisan di dinding warung.

Sampai sekarang sudah ada pelanggan dari 63 negara yang pernah mengunjungi warung Sate Ratu ini. Terakhir kali pelanggan yang datang adalah dari Maroko. Istimewa bukan? Cerita lain dari warung ini pernah di tulis dan dimuat di majalah semcam Lonely Planetnya Jepang. Jadi banyak juga wisatawan Jepang dan negara Asia lainnya yang mencari warung ini.

Sate Ratu juga  mendapatkan award dari Tripadvisor berupa Certificate of Excellence di tahun 2017 dan 2018. Selain itu Sate Ratu juga mendapatkan penghargaan berupa terpilihnya sebagai salah satu dari 95 Food Startup Indonesia oleh BEKRAF dan finalis Penerus Warisan Kuliner Kecap Bango tingkat nasional. Sungguh istimewa!

TripAdvisor, penghargaan dan peta negara. Dok Pribadi
TripAdvisor, penghargaan dan peta negara. Dok Pribadi
Budi selaku owner warung ini berasal dari Tulung Agung dan sebenarnya dulunya bekerja di bidang entertainment.  Perjalanan Budi bersama Sate Merah belum lama. Pria ini nekat dan berbekal tekad yang kuat keluar dari zona aman setelah puluhan tahun bergelut di bidang hiburan tersebut. 

Pria tersebut menemukan kebosanan dan rasa jenuh. Kemudian  muncul ide keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru di mana ia bisa merasa lebih bebas dan santai. Budi pun mengajak sang istri untuk memulai bisnis kuliner ini.

"Saya kelahiran Tulung Agung tapi wangsit untuk membuat warug ini saya dapat di Jogja dan resep rahasia tadi saya dapatkan dari Kawah Merapi hahaha." Ujarnya sambil bercanda.

Penulis bersama owner Sate Ratu. Dok Pribadi
Penulis bersama owner Sate Ratu. Dok Pribadi
Satu porsi sate merah berisi 6 tusuk sate dan biasanya disajikan dengan nasi serta sate lilit basah. Sate lilit basah ini juga tidak kalah enak. Penampakan sate lilit ini pun unik tanpa ditusuk tapi disajikan dengan bentuk kotak-kotak. 

Ceritanya begini, beliau mengadopsi sate lilit asal Bali, kemudian mencetuskan ide membuat satelilit basah, dimana daging lilit tidak ditusuk ataupun dicampur dengan parutan kelapa. Hal ini dilakukan karena menghindari proses sate lilit original yang memakan waktu lama. Oleh karena itu dibuatlah sate lilit basah.

Lilit basah disajikan  satu porsinya berisi 4 potong lilit basah dengan ukuran yang lumayan besar. Disajikan bersama taburan bawang goreng diatasnya,  potongan timun kecil-kecil,  dan sedikit kuah enak juga. Rasa dari lilit basah ini  gurih, dan lembut di saat dikunyah.  Proses pembuatan lilit basah ini tidak melalui proses pembakaran tapi di kukus.

Hidangan Sate Merah dan Sate Lilit. Dok Pribadi
Hidangan Sate Merah dan Sate Lilit. Dok Pribadi
Cara menyantap sate merah ini pun berbeda. Tidak seperti menyantap sate Madura lainnya. Jangan lama-lama dan dibiarkan berjam-jam karena kelezatan dan juicynya itu akan menurun kadarnya. Jadi  ketika disajikan maka harus segeralah dimakan.

Soal harga? Jangan khawatir. Harga untuk satu porsi sate merah dan lilit basah, kalian hanya cukup merogoh dompet Rp. 23.000,- untuk satu porsi. Oyah, karena saking banyaknya juga permintaan pasar terhadap Sate Merah yang juicy ini , maka dibuat pula bumbu Sate Merah yang khusus untuk dijual. Mas,mbak bisa membelinya dengan harga Rp 40.000,- saja. Sate Ratu ini tidak membuka cabang lain dan Budi tidak khawatir akan persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat di Jogjakarta. Beliau percaya bahwa satenya enak dan mempunyai kualitas baik.

"Sekarang, kurang lebih kita menghabiskan 15-20 kg daging ayam untuk membuat Sate Merah. Jadi bisa dibayangkan berapa ratus tusuk sate yang dihasilkan. Soal persaingan bisnis saya rasa tidak perlu dikhawatirkan." Tegasnya.

Hemm kira-kira sampai 200 tusuk sate enggak ya dalam sehari? Jika dilihat dari berapa kg mereka menghabiskan dalam sehari. Pastinya warung ini tidak sepi oleh pelanggan. So tunggu apalagi guys. Serbu dan makan sate merahnya. Perut kenyang hati pun senang!

penulis bersama mas mbak Kjog dan owner Sate Ratu . Dok : Riana Dewi
penulis bersama mas mbak Kjog dan owner Sate Ratu . Dok : Riana Dewi

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun