Deru kehidupan perkotaan yang tak pernah berhenti membuat kita menyaksikan pesatnya dinamika kehidupan dan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.Â
Dalam pusaran inovasi dan pertumbuhan ekonomi, pertanyaan tentang bagaimana kita dapat mengatasi tekanan ekologis dan tantangan keberlanjutan semakin mendesak kota-kota besar di Indonesia.Â
Tak terkecuali Kota Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Kota di tepian laut utara Pulau Jawa ini dipenuhi oleh keindahan sejarah dan budaya, menjadi saksi perpaduan antara kehidupan tradisional dan modern.
Di tengah pesatnya perkembangan dan urbanisasi, Semarang juga menghadapi tantangan klasik kota besar seperti kemacetan dan polusi udara. Pada Agustus 2023 lalu, tingkat polusi udara Kota Semarang mencapai 142 AQI (indeks kualitas udara) dan berada di zona oranye menurut situs IQAir.Â
Dikutip dari Kompas.com, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Konservasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Safrinal Sofaniadi, memperkirakan bahwa sekitar 80 persen dari total polusi udara di Kota Semarang didominasi oleh gas buang kendaraan, sementara sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya.Â
Dalam upaya menanggulangi tingkat polusi udara yang signifikan di Kota Semarang, Bus Rapid Trans (BRT) Trans Semarang hadir sebagai solusi inovatif yang memiliki dampak positif terhadap masa depan lingkungan yang sustainable.Â
Sejak 2019 lalu, Pemerintah Kota Semarang dan Kota Toyama (Jepang) merealisasikan kerja sama konversi bahan bakar solar ke gas untuk BRT Trans Semarang. Bahkan pada rentang Juni hingga Juli 2021 lalu, pembayaran tiket naik BRT Trans Semarang dapat dilakukan dengan menggunakan botol plastik setiap hari Selasa.Â
Hanya dengan seribu rupiah, pelajar maupun mahasiswa seperti saya dapat melakukan mobilitas dengan BRT yang jalur utamanya mencakup kawasan-kawasan vital di Kota Semarang, hal ini menciptakan  konektivitas yang efisien antara pusat kota dan suburban.Â
Harga tiket yang terjangkau bukan hanya memberikan aksesibilitas yang lebih luas terhadap transportasi umum, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan menciptakan kota hijau.Â
Sebagai seorang mahasiswa yang memilih Semarang sebagai kota perantauan, Trans Semarang memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam mobilitas saya sehari-hari, baik ke kampus maupun ke tempat tujuan lainnya. Saya juga bisa menghemat pengeluaran transportasi dan mengalokasikan dana tersebut untuk keperluan lainnya.
Selain manfaat pribadi yang saya rasakan, ada pula dampak positif yang signifikan bagi lingkungan melalui pengurangan emisi karbon. Pengurangan jumlah kendaraan pribadi memiliki dampak positif yang signifikan pada kualitas udara.Â
Dengan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, saya turut berpartisipasi dalam mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan. Berkurangnya kendaraan bermotor menghasilkan penurunan emisi gas buang yang merugikan, seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, dan partikel debu.
Jika dibandingkan dengan kendaraan pribadi yang hanya mengangkut 1-4 orang penumpang, BRT Trans Semarang dapat memuat kapasitas penumpang yang lebih besar, memungkinkan hingga 30 orang dalam satu perjalanan. Hal ini berarti bahwa jumlah energi yang digunakan per penumpang menjadi lebih efisien daripada jika setiap orang menggunakan kendaraan pribadi mereka sendiri.Â
Selain mengurangi volume kendaraan pribadi, transportasi umum juga membantu mengurangi kemacetan lalu lintas, yang dapat mengurangi konsumsi bahan bakar dan energi yang dibutuhkan untuk perjalanan.Â
Meskipun memberikan banyak manfaat dalam hal efisiensi dan keberlanjutan lingkungan, Trans Semarang tidak terlepas dari beberapa tantangan yang dihadapi.Â
Salah satunya adalah kenyataan bahwa belum semua armada menggunakan sistem dual fuel, teknologi yang mengombinasikan bahan bakar diesel dan gas alam untuk mengurangi emisi gas buang. Hal ini dikarenakan terbatasnya keberadaan SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) yang hanya ada tiga di Kota Semarang.Â
Dikutip dari situs resmi Pemerintah Kota Semarang pada Juli 2022, ada 117 armada yang belum memakai bahan bakar gas dari total 249 armada. Dalam menghadapi tantangan ini, perlu langkah-langkah strategis untuk meningkatkan penggunaan sistem dual fuel di semua koridor Trans Semarang dan mempertimbangkan penambahan SPBG untuk memenuhi kebutuhan armada yang menggunakan teknologi ini. Dengan demikian, penggunaan BRT Trans Semarang dapat menjadi lebih efektif dan memperkuat komitmennya terhadap lingkungan yang sustainable.
Dalam era di mana keberlanjutan lingkungan urgensinya semakin besar, beralih ke transportasi umum merupakan langkah nyata menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Menggunakan bus, kereta api, atau transportasi umum lainnya tidak hanya mengurangi jejak karbon kita, tetapi juga membantu mengurangi kemacetan, polusi udara, dan konsumsi bahan bakar yang tidak terbarukan.Â
Penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki peran yang penting dalam menciptakan masa depan hijau yang berkelanjutan. Sebagai seorang mahasiswa, saya sadar bahwa saya adalah agent of change untuk mempengaruhi masyarakat dan lingkungan sekitar saya dengan menjadi teladan dalam mengadopsi gaya hidup yang ramah lingkungan, seperti menggunakan transportasi umum.
Untuk terlibat secara aktif dalam mendukung inisiatif yang sejalan dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) kita dapat mengambil langkah-langkah konkret dalam kehidupan sehari-hari kita.Â
Salah satunya adalah dengan mempertimbangkan transportasi umum sebagai pilihan utama perjalanan, kemudian kita dapat mendukung proyek-proyek lokal yang bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas transportasi umum, serta turut serta dalam kegiatan-kegiatan komunitas yang mengedukasi dan mempromosikan kesadaran akan pentingnya lingkungan keberlanjutan.
Dengan bersama-sama mengambil langkah-langkah tersebut, kita dapat mencanangkan perubahan positif dan memberikan kontribusi nyata untuk menjaga bumi ini tetap hijau dan lestari bagi generasi mendatang.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya