Aku sangat mencintai desaku. Di mana aku bisa menikmati indahnya pemandangan dari atas pohon seperti saat ini, sembari mengamati kegiatan sehari-hari para penduduk desa yang masih tetap sama seperti dulu. Termasuk rutinitas seorang nenek-yang sepertinya pernah kukenal namun tak kuingat namanya-yang saat ini sedang berjalan tertatih-tatih mengitari pelosok desa memanggil-manggil nama seseorang. Hal yang selalu dilakukannya setiap senja; sejauh yang bisa kuingat.
"Nak, ayo makan." Ibu datang menghampiri membawa makanan untukku.
"Terima kasih, Bu." Aku menerimanya dari tangan ibu dan mulai makan dengan lahap sembari masih memerhatikan sang nenek.
"Bu, nenek itu sebenarnya sedang memanggil-manggil siapa, sih?" tanyaku.
"Dia mencari anaknya yang hilang diculik," jawab ibu sambil duduk di sampingku.
"Diculik siapa?" tanyaku lagi.
"Wewe Gombel," jawab ibu.
"Oh, berarti beliau dulu tidak mengurus anaknya dengan baik ya, Bu?"
"Oh, tidak." Ibu menggeleng. "Nenek itu adalah orang yang baik. Anaknyalah yang nakal. Tidak menurut, suka berbohong, dan selalu menyakiti hati ibunya. Maka dari itu, anaknya tidak pernah dikembalikan sampai sekarang."
"Dikembalikan oleh siapa, Bu?"
"Wewe Gombel."