Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kegagalan Narasi Kampanye Politik

16 April 2019   09:05 Diperbarui: 16 April 2019   09:07 48
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

GAGAL! Proyeksi pembangunan narasi konstruktif politik kebangsaan, mengalami kegagalan. Jelang hari pemilihan, isu yang berkembang dan diperkuat melalui para elit ada pada seputaran tema tentang Khilafah. Hal tersebut, menjadi sebuah pilihan narasi yang tentu saja ditujukan untuk mempengaruhi persepsi serta emosi publik menjelang hari pencoblosan.

Ketakutan akan penguatan politik identitas, sebagaimana bentuk ISIS yang terjadi Suriah, dijadikan sebagai sarana untuk membentuk citra bagi pasangan calon tertentu. Restu ulama yang menjadi pondasi legitimasi salah satu pasangan calon, kemudian diindikasi sebagai langkah berlindung organisasi terlarang yang telah resmi dibubarkan, dengan stigma radikal.

Seolah hendak memulai kembali diskusi lama terkait relasi Agama dan Negara. Dinamika keterkaitan antara aspek Agama dan kehidupan bernegara, merentang panjang, menjadi bagian dari perdebatan awal pembangunan rintisan kebangsaaan kita sejak permulaan. Nilai keluhuran Agama, diadopsi dalam pondasi kehidupan berbangsa, melalui ideologi Pancasila.

Bagaimana dengan Islam?

Posisi pemeluk Agama Islam di negeri ini, adalah mayoritas dalam kalkulasi populasi. Bahkan lekat dengan aspek kesejarahan kemerdekaan, meski kemudian dalam kerangka kebangsaan narasi persatuan dan kesatuan diutamakan. Pada perjalanan selanjutnya, gerbong politik Islam melalui jalur kepartaian tampak tertinggal, bila tidak bisa disebut sebagai ditinggalkan.

Pergerakan pasca kemerdekaan, baik melalui Orde Lama yang mencoba melebur kekuatan politik ditangan kekuasaan, seolah memberikan derajat berbeda bagi kelompok politik Islam, terutama karena perbedaan pandangan pengelolaan negara. Sementara itu, memasuki Orde Baru, melalui fusi partai dan penerapan azas tunggal Pancasila yang dipaksakan, membuat partai Islam semakin kerdil.

Kanalisasi politik Islam kembali muncul pasca Orde Reformasi. Partai politik yang bernafaskan panduan Islam tampil, meski kemudian dalam kerangka pragmatis harus beradaptasi dengan tendensi publik. Lantas partai Islam bersifat terbuka, menempatkan simbol Islam sebagai sarana dalam meraup simpati publik, menguatkan melalui jalur kaderisasi, meski membuka diri bagi elemen luar.

Kegairahan untuk melaksanakan implementasi cita-cita dan gagasan Islam, dalam mewujudkan eksistensi sebagai rahmat bagi semesta alam berjalan seiring dengan arus globalisasi Islam. Hal itu sesuai dengan apa yang dikemukakan Oliver Roy dalam Globalised Islam: the Search for the New Ummah. Kebangkitan Islam, justru seolah menjadi antitesa setelah runtuhnya Menara Kembar WTC 2001.

Kekuatan Islam muncul dalam bentuk jalur formal kenegaraan, terekspresi melalui mekanisme politik dan demokrasi, menampilkan identitas Islam sebagai bentuk pergumulan dan akumulasi interaksi entitas Islam dengan format demokrasi. Meski begitu, organisasi seperti Al Qaeda juga mampu meluaskan dirinya melalui globalisasi, bentuk re-Islamisasi perlawanan atas westernisasi.

Linier dengan Radikalisasi?

Pertanyaan terbesarnya, apakah terjadi korelasi positif antara penguatan nilai Islam dalam politik, dengan apa yang kemudian dimaknai sebagai radikalisme? Argumentasi bisa disusun berbeda, tetapi dalam konteks modernitas, politik Islam pun mengalami perubahan komposisi. Mekanisme formal politik secara legal, dijalankan sebagai bentuk pengakuan atas pilihan format demokrasi yang mengakomodasi politik aliran serta identitas.

Ilustrasi munculnya Al Qaeda dan ISIS, adalah bentuk yang harus diakui terjadi secara berbeda dari arus utama. Puritanisme Agama dengan pemaknaan gerakan fisik perlawanan, adalah bentuk ekstremitas yang terdapat dibanyak spektrum ideologi dan aliran politik identitas. Sehingga, terorisme yang terasosiasi sekaligus terstigma pada wajah Islam, adalah sebuah kekeliruan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun